Radikalisme Agama DAN Bernegara

040820141157443161022_2

Oleh: Novi Novera

A. RADIKALISME AGAMA
Saat berbincang mengenai Agama, di situ terdapat dua pengertian penting yang harus dijelaskan terlebih dahulu. Pertama, agama sebagai sebuah doktrin dan ajaran  yang termuat dalam kitab-kitab suci, dan kedua agama sebagai aktualisasi dari doktrin tersebut yang terdapat dalam sejarah. Doktri-doktrin agama bersifat ideal. Dalam doktrin tersebut menghendaki para pemuluknya untuk mengamalkan doktrin- doktrin tersebut dengan baik, namun dalam kenyataan yang ada, seringkali pengamalan doktrin tersebut jauh dari bentuk ideal yang dikehendaki agama terebut. Karenanya, agama acapkali menampakan dirinya dengan wajah ganda, dalam arti bahwa, wujud dari pengalaman ajaran suatu agama berbeda jauh dari ajaran yang sebenarnya yaitu doktrin-doktrin agama yng bersifat ideal, Semua agama misalnya, menyerukan perdamaian, persatuan dan keselamatan. Tetapi pada kenyataan yang ada seringkali agama menjadi sosok yang kejam, bingas dan garang, bahkan sering menimbulkan konflik peperangan. Radikalisme agama merupakan suatu gerakan dalam agama yang berupaya untuk merombak secara total suatu tatanan sosial / tatanan politis yang ada dengan menyeruh pada kekerasan.
Terminologi “ radikalisme “ memang dapat saja beragam, tetapi secara esensial radikalisme selalu dihubungkan dengan adanya suatu pertentangan yang tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kelompok agama tertentu di satu pihak, di lain pihak dengan tatanan nilai yang berlaku saat itu. Adanya pertentangan yang tajam menyebabkan konsep radikalisme selalu dikaitkan dengan sikap dan tindakan yang radikal, yang kemudian dikonotasikan dengan kekerasan secara fisik. Radikalisme agama dalam bangsa kita itu adalah sebuah konsekuensi dari penerimaan terhadap agama-agama yang beragam, karenanya, bangsa Indonesia dituntut untuk terus-menerus mencari upaya dalam menciptakan kerukunan dan harmoni yang menjadi syarat persatuan bangsa. Gejala radikalisme ditinjau dari perspektif konflik ialah suatu hal yang alamiah. Akan tetapi sebagai manusia yang punya kehendak bebas, seyogyanya mau dan mampu mengendalikan dan mengatasinya demi kesatuan dan kerukunan beragama. Ciri-ciri yang menonjol dari radikalisme adalah kekerasan (violence) yang dilakukan oleh sekelompok seseorang atau beberapa individu, dan jika mereka berhasil, akan menimbulkan korban jiwa dan materi yang tak jarang berskala luas dan besar. Jika korban jiwa, menyangkut sejumlah penduduk yang dalam dunia internasional disebut “kejahatan terhadap kemanusiaan”. Faham dan semangat radikalisme, Dapat disimpulkan bahwa radikalisme agama adalah suatu gerakan yang menuntut sebuah keadaan menyesuaikan ajaran agama mereka dengan bentuk kekerasan, tetapi perlu di ingat bahwa golongan yang sering melakukan kekerasan adalah golongan yang tak begitu memahami ajaran yang ideal dalam agamanya.
B. AGAMA, NEGARA DAN POLITIK
Melihat kesimpulan diatas dapat kita ketahui bahwa agama merupakan salah satu faktor pemersatu (intregative factor), yang dapat menembus batas-batas geografis dan kebangsaan dan jika suatu bangsa dapat
sikap terhadap agama, yang jelas ada tiga tipe sikap pemerintah terhadap agama. Sebagaimana perkataan vernon:
Three major types of relationship can be identified:
1. The government supports religion and reject or dis-criminates againts all other.

2. The goverment supports religion in general, but gives no marked preferential treatment to any religion.

3. The goverments reject all religion in general, and directly or indirectly engages in activities designed to eradicate reli-gion from the society.
Pada tipe yang pertama negara hanya mengakui satu agama tertentu dan bersikap diskriminatif terhadap agama lainya. Tipe seperti ini, sekali dapat menjamin stabilitas sebuah negara Dan tipe kedua negara tidak berpihak kepada salah satu agama mana pun. Semua agama diberi hak hidup dan di tempatkan sejajar akan tetapi pada saat yang sama agama dipisahkan secara tegas dari kehidupan sosial dan politik. Sebab, keterlibatan agama dalam politik, di samping dapat menimbulkan diktatorisme, seperti Amerika Serikat. Akan tetapi sekularisasi seperti itu akan menyebabkan agama menjadi terpisah dari urusan politik dan sosial.seperti itu akan melahirkan perkara homogentitas agama-agama. Sebab, agama-agama diterima dan pemelukan terhadap agama pun bisa dibenarkan. Berbeda dengan indonesia yang  mengakui lima agama sebagai agama resmi yang sah di peluk warganegaranya, dengan ratusan aliran kepercayaan yang juga dilindungi. Dengan seperti ini Indonesia memiliki banyak pengalaman dan sering kali di jadikan model bagi kerukunan hidup antara umat beragama oleh negara-negara lain, akan tetapi Indonesia bukanlah sebuah negara sekular, istilah ini diartikan sebagai lawan kata dari theokrasi, sebab agama dipandang sebagai salah satu modal pembangunan, dan sangat berperan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sebagai konsekwinsinya Indonesia harus siap menghadapi konflik-konflik yang timbul dari perbedaan agama.
Tipe ketiga adalah tipe yang tidak menerima semua agama ( the goverment rejects all religion), karena agama dipandang sebagai penghalangan terhadap kemajuan sebuah negara. Tipe ini dianut oleh Cina. Sikap seperti ini tetap mengandung konsekuensi konflik. Sebab, agama-agama tersebut dapat menjadi api dalam sekam, yang sewaktu-waktu dapat melahirkan konflik baik negara tersebut kepada pemeluk agama maupun sebaliknya dan politik yang tanpa landasan agama akan berhimbas munculnya politik yang tak bermoral. Jadi pilihan apapun yang diambil oleh umat manusia dalam kaitannya dengan posisi agama dan hubungannya dengan negara dan kehidupan sosial, berbagai konsekuensi tetap akan menyertai pilihan itu, agama tetap dibutuhkan, tetapi pada saat yang sama ia bisa menjadi sumber konflik dan disintegrasi sebuah bangsa.
C. MERESPON PROBLEMATIKA DALAM RADIKALISME AGAMA
Radikalisme yang berasas tuntutan dan bersikap dengan kekerasan sering mewarnai bangsa Indonesia dewasa ini, saling serang umat beragama, saling bunuh umat beragama dan saling menganggu antara umat
beragama, itulah yang mewarnai bangsa kita Indonesia, pemerintah pun acap kali kewalaan dalam mengadapi hal itu, karena negara kita adalah negara yang penuh warna-warni corak budaya dan agama. Sebagai mana yang telah saya paparkan di keyword bahwa radikal adalah sesuatu yang alamiah dan pasti ada baik negara beragama satu, atau tak berasas agama atau atheis pun tetap akan menghadapi hal itu. Seharusnya pemerintah telah mempersiapkan hal itu sebelum terjadi, selain itu radikalisme ini adalah sesuatu yang sangat membahayakan bagi kesatuan bangsa dan kemajuan bangsa, untuk mengatasi hal itu pemerintah harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membuat sesuatu pertemuan bersama pemuka-pemuka agama dan ormas agama, guna menyatukan sepemahaman.

2. Menteri agama harus melacak sumber masalah dalam radikalisme sampai akarnya.

3. Pengawasan terhadap pendidikan-pendidikan atau ormas agama, sehingga tidak adanya pemahaman yang menyimpang atau ajaran yang bersifat radikal.

4. Tindak tegas pemerintah dalam menegakkan hukum

5. Pengarahan disetiap intansi pendidikan tentang dampak negatif radikalisme
Mungkin dengan langkah-langkah diatas dapat menjaga integrasi negara kita dan dapat menyelesaikan masalah radikalisme agama, karena radikalisme yanga ada di negara kita adalah sebuah hambatan bagi negara dalam menjalin keharmonisan dan kemajuan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
– Madjid, Nur Cholis, Islam, Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: yayasan wakaf Paramida, 1992) – Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, jilid I, (Jakarta: Panitia Penerbit Buku Di Bawah Bendera Revolusi, 1965) – Yusuf A. Pua, Panca Agama Di Indonesia, ( Jakarta: Pustaka Antara, 1978) – Mududi, Abul A’la, Al-Islam wa Ittahadiyat al-mu’asirah (beirut: Dar Al-Qalam,1976) – Kadarmanta, Ahmad, Antisipasi Disintegrasi Negeri Ini, ( Jakarta, Pt, Forum Utama) – Panitia Penerbit, Masa Depan Bangsa dan Radikalisme Agama ( Gunung Jati, 2016)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan