Bukan Sekedar Janji

ukhuwah-islamiyah-persaudaraan-muslim

Oleh: Putri Rahmawati

“Alhamdulillah, gua habis dapet rezeki nih, Rp. 700.000,- dari saudara gua melalui ibu gua”, kata Reza dengan wajah berseri-seri.

Siapa yang tidak bahagia mendapat rezeki secara tiba-tiba? Tiba-tiba bukan berarti tanpa sebab. Bisa jadi kita tidak menyadari, namun Allah tak pernah ingkar janji.

“Gua kaget juga sih. Setelah gua tanya darimana uang itu, ibu gua baru ceritadeh. Jadi, seminggu yang lalu ibu gua pergi ke toko emas bersama saudara gua. Di toko emas itu, ibu gua beli emas yang harganya tiga juta-an. Karena ibu gua nggak bawa uang sebanyak itu, akhirnya ibu gua minjem sama saudara gua, Rp 700.000,-. Tapi pas ibu gua pingin ngembaliin uangnya, saudara gua nolak, dan ibu gua juga nggak mau dong. Jadi sama-sama kekeh tuh, ibu gua kekeh mau bayar, saudara gua kekeh nggak mau diganti. Karena nggak ada yang mau ngalah, akhirnya uangnya diterima sama saudara gua, tapi kata saudara gua, tapi ini tolong kasih Reza ya. Wah inilah janji Allah.”, Jelas Reza menanggapi pertanyaanku.

“Kok janji Allah?”, tanyaku yang tidak mengerti.

“Iya, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah : 245.”

Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

“Memang lu habis ngapain?”, tanyaku yang masih belum mengerti.

“Jadi suatau waktu, gua dateng kajian di Istiqlal. Kajian itu berbarengan dengan acara Wisuda Akbar Darul Qur’an, Ustadz Yusuf Mansur. Tau ustadz Yusuf Mansur kan? Yang dikenal masyarakat luas dengan “Ustadz Sedekah”. Nah di sana, ustadz Yusuf Mansur mengundang seorang bapak-bapak yang merupakan jama’ahnya untuk maju kedepan dan ditanyakan tentang jumlah rupiah yang ada di dalam dompetnya. Setelah menghitung, bapak-bapak itu menjawab Rp. 600.000,-. Dengan dalih dahsyatnya amal sedekah, “Sedekah itu pasti dibalas. Siapa yang sedekah satu, pasti akan dibalas Allah 10x lipat”, begitu jelas Utsadz Yusuf Mansur. Hingga akhirnya bapak-bapak itu menginfaqkan seluruh uang yang ada di dompetnya. MasyaAllah. Dan tau nggak apa yang terjadi selanjutnya?”, katanya denegan penuh tawa.

“Enggak.”, jawabku yang juga tertawa bersamanya.

“Saat itu juga ada seorang syekh yang merupakan tamu dalam acara tersebut mengapresiasi perbuatan bapak tersebut dengan menghadiahkan uang yang kalau dirupiahkan jumlahnya Rp. 50.000.000,-. Detik itu juga. Sujud syukur itu bapak-bapak.”, tuturnya dengan penuh semangat, dan takjub.

“Wah masyaAllah. Secepat itu ya. Tapi gua kira elu. Terus lu nya mana?”, eluhku karena menunggu perannya dibalik Rp 700.000,- itu.

“Sabar dong. Gua terharu banget kan ya. Nah dipenghujung acara ada penggalangan dana tuh, yaudah gua niat infaq tuh, ikhlas kok gua, itung-itung amal jariah karena katanya untuk pembangunan pondok dan pembelian mushaf. Waktuitu sempat terlintas di benak gua untuk kayak bapak-bapak tadi yang menginfaqkan seluruh yang ada di dompetnya. Tapi nanti gua pulang pakai apa? Setelah gua pikir-pikir, akhirnya gua yang saat itu hanya memiliki selembar uang limapuluh ribu rupiah dan selembar uang duapuluh ribu rupiah memutuskan untuk menginfaqkan uang yang limapuluh ribu.”

“Oh jadi karena itu, wah temen gua, bangga gua sama lu. Tapikan lu nginfakkinnya 50.000,- kan ya za, nggak jadi 70.000?”, Kataku memastikan.

“Iya. Nahitu dia. Lagi-lagi bukan sekedar janji.”

“Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR. Bukhâri dan Muslim)

Yakinlah, sekecil apapun kebaikan yang kita sinergikan, tak pernah luput dari perhitungan dan balasan-Nya. Selepas kapan, dimana, dengan siapa, janji Allah itu nyata. Ada kalanya Allah langsung membalas kebaikan itu detik itu juga dan kepadanya juga agar dirinya dan orang-orang disekitarnya termotivasi akan kebaikan tersebut. Dan adakalanya Allah membalas diwaktu tak terduga dan kepada orang yang bukan kita, melainkan orang disekitar kita. Seperti orangtua kita, anak cucu kita, dan saudara kita, agar kita senantiasa berbuat baik dan berbaik sangka kepada-Nya.

Dan yang juga harus digaris bawahi adalah pelipatan ganda itu tidak semata-mata hadir tiba-tiba. Tapi melewati proses usaha dan do’a. Lakukanlah dengan cinta dan suka cita. Yakinlah, karena kita tidak tahu, usaha mana yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan