Merindu Lagi

jalandakwah

Oleh : Bina Putri Paristu

Dalam malam yang panjang, suara yang sayup-sayup terdengar, ada rintihan tangis dan juga gelap mencekam. Pada malam yang dinanti setiap mukmin untuk mendekatkan diri kepadaNya. Tak terasa ramadhan hamper telah usai. Lantunan ayat suci, diiringi kekhuyuan saat kami bershaf-shaf berdiri dengan rapi pada sepertiga malam. Malam itu diluar sana, hujan membasahi badan kami yang mengendarai kuda besi, “Alhamdulillah hujan” sahutku dengan senyum penuh semangat. “ kakak, kehujanan, diluar dingin banget lho ka, ko kaka nekat dateng, kasihan rumah kaka jauh” kata adik kelas dari SMAku. “ Alhamdulillah dik, hujannya masih air, bukan hujan batu dan bara api di akhirat” sahutku dengan suara penuh parau. “kaka sakit?” tanyanya dengan tampak sedikit kebingungan. “ sepertinya engga dik, suaraku memang begini adanya” sambil berlalu dan bergegeas mengambil wudhu.

Tangisan yang kecil lama- lama terdengar nyaring “Ummmiiiiiii….” Dari anak berusia dua tahun, dengan cekatan sang Ibu mengahmpirinya dengan sigap, “iya ummi disini” sahutnya dengan penuh rasa sayang dan membuatnya tenang. Kuambil mushaf kecil berwarna merah yang baru dihadiahkan oleh kakaku dan kaka iparku, hadiah milad katanya. Kulantunkan ayat suci hingga tak sadar, waktu sudah mulai beranjak pagi, dan kulihat kekanan dan kekiri adikku sudah terlelap dan al-qur’an dipeluknya dengan rasa hangat. Tak sampai hati aku membangunkannya, tetapi panitia sudah sibuk berlalu-lalang untuk membangunkan kami semua agar saat sholat qiyamul lail dimulai sudah tidak ada lagi yang berlalu lalang. “ dik, bangun yuk, sudah waktunya sholat”. “jam berapa ka?” “jam satu, yuk dik, dipercepat langkahnya” jawabku sambil tersenyum. “baik ka” sambil berlalu mengambil wudhu.

Setelah selesai untuk bersiap- siap sholat, ada ibu ibu yang berdiri disebelahku, tak asing mukanya bagiku. Tetapi aku lupa namanya, mungkin beliau teman ibuku, aku hanya senyum simpul dan kembali mengambil mushaf merahku.

Dalam kesendirian yang panjang, selepas melantunkan ayat-ayat suci, aku melihat disekililing masjid tempatku berada. Dengan tempat yang sejuk, fasilitas yang memadai, belum lagi, anak-anak yang sejak dini sudah diajarkan pentingnya ramadhan, ada yang tertatih tatih membaca al-qur’an, da nada pula ibu yang sudah berusia lanjut, duduk dengan menggunakan kursi rodanya, sampai saat selesai sholat tahajud, air mata membasahi pipinya, tak terasa air mata mengalir begitu hebatnya saat lantunan ayat-ayat qur’an telah selesai disuarakan.

Masih terbayang dalam benakku yang panjang saat pembacaan surat Ar Rahman “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan” ayat-ayat itu diulang-ulang, hingga derai air mata tak sanggup aku hentikan. Tak terasa, ramadhan kali ini begitu berbeda, ayat-ayat yang dilantunkan begitu masuk ke dalam kalbu, hingga keheningan terasa disekujur tubuhku. Kuusapkan berulang kali dengan mukena hijau tosca, tetapi air mata itu tetap mengalir. Sampai saat sujud, aku merasa begitu sangat tenang. Kuhempaskan masalah-masalah yang bersemayam dalam pikiran dan hatiku. Hingga suatu ketika, muhasabah telah tiba saatnya, dan saat itu aku mengingat saudara-saudara seperjuanganku.

Teman-teman yang kini berada satu atap, satu visi dan misi serta tujuan yang sama. Saudara seimanku, teman-teman yang selalu mengajariku tentang hidup dan kedewasaan, “masalah itu bukan untuk dipermasalahkan, tapi diselesaikan dan menjadi bahan pendewasaan” kata-kata yang masih berada dalam ingatanku, dari seorang teman terbaikku. Kini, tangisanku semakin menjadi-jadi ketika sang ustad berkata “saudaramu adalah amanahmu”. Rasanya hati ini semakin tercabik-cabik, hingga taka da kata lagi yang dapat kukatakan selain, “aku mencintai saudaraku”, sesak dirasa dalam dada.

Banyaknya masalah-masalah yang kini hadir dalam hidupku, aku jadikan semua sebagai bagian warna-warni dalam hidupku. Mungkin, dosaku ikut berkontribusi sehingga teman-temanku ada yang berbuat seperti itu. Tugasku hanya mengingatkan, tetapi jika sudah tak mampu lagi mengingatkan, maka kubalut semua dengan harap dan doa. “Siapa lagi yang mau ngingetin kalau bukan saudaranya sendiri? Itu gunanya saudara tau” seoarang akhwat yang saat itu membisikkanku ketika aku terdiam melihat kelakuan teman-temanku. Banyak pembenaran yang teman-teman aku lakukan saat berbuat kesalahan, mungkin karena aku yang kurang perhatian, sehingga perhatiannya tercurah bukan untuk semestinya.

Ramadhan ini begitu berbeda, dengan menambahnya saudara semisi dan sevisi, belum lagi dengan warnawarni yang menghiasinya. Saat kumandang adzan tiba, aku bergegas mengambil air wudhu, dan segera shalat fajar dua rakaat. Sampai pada salam terakhir, aku dekatkan wajahku ke sajadah, dan aku bertemu saudaraku dalam diamku, aku bertemu mereka dengan senyum penuh semangat. Entah semangat dari seorang saudara manalagi yang dapat mengalahkan senyumnya. Mereka yang terindah, yang dapat menguatkan dikala sepi maupun ramai. Mungkin kata-kata tak habis terucap dibibir saat kita berbincang bersama. Tapi yang aku tahu, kita sedang mengukir kenangan, yang akan menjadi bagian dari sejarah hidup kita.

Tetaplah menjadi bagian disini, walaupun sekecil atau sebesar apapun pengorbananmu, tetap berarti untukku yang kurindu.

Dalam dekap malam, 29 Ramadhan 1437 H

Comments

comments

Tinggalkan Balasan