Sabar dan Ikhlas

daun-seperti-perahu-di-atas-air

Oleh : Bina Putri Paristu

Kesabaran muncul dari kematangan jiwa, dimana seorang muslim yang baik, yang mampu mengedepankan logika daripada emosinya, tidak terjerumus terhadap sikap yang emosional, karena keimanan dan pemahamannya yang menjadikan kearifan dalam menghadapi persoalan.

Mungkin darikita banyak sekali yang mengatakan “Kesabaran itu ada batasnya” kalimat tersebut bukan berarti benar salahnya, tetapi dalam pengaplikasiannya. Karena seorang muslim yang baik, yang dapat mendidik orang lain dengna cara yang baik. Contoh kasusnya, jika kita satu kelompok dalam tugas kuliah, temannya tidak mengerjakan apapun yang menjadi tugasnya, dan itu dapat menambah tugas teman dikelompoknya, lalu dengan rasa tidak bersalah, dia datang dan pergi begitu saja, sampai akhirnya teman sekelompoknya mengatakan “sabar itu ada batasnya” hingga ia berhenti berperilaku seperti itu, karena itu bukan untuk mendidik ketika tanggung jawabnya menjadi tanggung jawab orang lain. Karena mendidik memberikan pelajaran yang berari bagi di pembuat dan teman – teman sekelompoknya. Lain cerita ketika seorang muslim yang menderita sakit tak berkesudahan sehingga merasakan “habis kesabarannya” lalu bunuh diri karena ketidaksabarannya terhadap penyakit ini. Atau seorang muslim yang mengajak kebaikan, tetapi masih saja dianggap aneh, diacuhkan, bahkan dijauhi oleh teman-teman sendiri, maka dalam dua hal tersebut tidak boleh berkurang kesabarannya, karena kesabaran dalam hal itu merupakan kesabaran yang tidak ada batasnya. Sikap sabar seorang muslim tersebut adalah sikap yang tegar dalam melakukan hal kebaikan. Allah berfirman :

…Maka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu (lemah fisik) dan tidak pula menyerah. Allah menyukai orang – orang yang sabar. (QS. Ali Imran : 146)

Menurut Ibnu Taimiyah kesabaran dibagi menjadi tiga hal :

  1. Sabar dalam ketaatan dimana dalam hal ini yang biasa disebut dengan istiqamah, mengendalikan hawa nafsu.
  2. Sabar untuk tidak melakukan maksiat, karena dalam hal ini agar tidak tergoda dalam melakukan kemaksiatan
  3. Sabar menerima takdir, karena banyak dari kita yang tidak sabar dalam menghadapi ujian kenikmatan sehingga dapat mengumbar kenikmatan tersebut dengan hawa nafsunya.

Parameter bahwa kesabaran sudah menjadi akhlak dari seorang muslim yang baik adalah ketika ia ditimpa masalah, musibah, tekanan apapun, dia dapat menerima, dan meredakan emosinya sendiri, tidak menunggu beberapa saat atau beberapa hari untuk meredakan emosinya.

Kesabaran itu tumbuh dari pemahaman. Semakin paham seorang dalam sebuah permasalahan maka seamkin sabarlah dia akan hal itu. Sebagaimana dalam firman Allah

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? (QS. Al Kahfi: 68)

Ketika berbicara tentang sabar, maka kita juga mengetahui sebagai muslim yang baik juga harus melewati bab ikhlas. Mungkin banyak dari kita yang sering mengatakan “aku ikhlas ko”. Ikhlas dari kata khalasa yang berarti jernih, murni, bersih, dan lepas. Ikhlas kepada Allah dengan menjernihkan dan memurnikan niatnya hanya untuk ridha Allah swt, tidak ada pula yang mengikutinya atau pamrih.

Seorang muslim yang baik mampu selalu memperbarui niatnya hanya untuk Allah swt. Ketika aktif berorganisasi disana sini, belum lagi akademik yang kian meningkat, dan terkenal dimana-mana, kadang terbesit harapan atas pujian dan popularitasnya. Memperbarui niat dirasa perlu karena setiap langkahnya harus didasari niat ikhlas untuk memperoleh ridha Allah SWT.

Ikhlas yang biasa diucapkan dengan lisan, harus diikuri dengan pengapilkasiannya. Banyak yang merasa bahwa ikhlas itu sulit, tetapi sulit bukan berarti tidak harus menjadi penghalang,jadilah pionir yang mampu memperbarui niat tiap langkahnya.

Karena “Sabar tiada berujung, ikhlas tiada berbekas”

Comments

comments

Tinggalkan Balasan