SEGELINTIR KETELADANAN

daun-seperti-perahu-di-atas-air

Oleh: Reza Fikri Aulia

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad, wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.

Adalah Rasulullah, yang pernah mengimami sholat para sahabatnya dengan keadaan beliau yang begitu teramat lapar, sehingga beliau harus mengikatkan batu kerikil dengan sehelai kain di perutnya untuk menahan rasa lapar. Tatkala para sahabatnya mengetahui hal tersebut, karena setiap kali pergerakan beliau antara satu rukuk ke rukuk berikutnya amat sukar dan mengeluarkan suara gesekan batu kerikil itu, para sahabatnya segera menawarkan makanan kepada beliau. Lantas apa yang dikatakan beliau? Beliau menjawab, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Begitulah Rasulullah, yang mempunyai kebiasaan menyisakan sebagian minuman yang disuguhkan oleh Aisyah kepada beliau untuk kembali diberikan kepada Aisyah. Namun suatu hari, beliau hampir-hampir menghabiskan minuman itu tanpa menawarkannya kepada Aisyah. “Ya Rasulullah, biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku, tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?” Beliau diam dan hendak melanjutkan meminum habis air di gelas itu. Dan Aisyah bertanya lagi, “Ya Rasulullah, biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku, tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?” Akhirnya beliau memberikan sebagian air yang tersisa di gelas itu kepada Aisyah. Aisyah meminum air itu dan ia langsung kaget seraya memuntahkan air itu. Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat dicampur dengan garam, bukan gula. Maka sinergislah apa yang dikatakan beliau dengan perbuatan beliau. “Lelaki yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.”

Adapun tatkala seorang pengemis datang meminta-minta kepada Rasulullah yang sedang berkumpul dengan para sahabatnya, beliau bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumah?” “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” “Ambil dan serahkan ke saya!” Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Beliau kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Beliau lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Beliau kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Beliau mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. “Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap beliau, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada beliau membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Beliau kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya. Beliau berkata, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.”

Inilah Abu Bakar, yang tak kuasa menahan tangis tatkala mengetahui dan menjalankan kebiasaan kekasihnya, yaitu Rasulullah, yang setiap pagi selalu pergi ke pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta. Bagaimana kuat Abu Bakar menahan tangis ? Pengemis itu selalu berkata, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.” Namun tanpa berkata sepatah kata pun, Rasulullah menyuapi makanan yang selalu beliau bawakan untuk pengemis itu. Beliau melakukan kebiasaan ini hingga menjelang wafatnya. Tatkala beliau wafat, tak ada lagi orang yang setiap pagi selalu membawakan makanan kepada Pengemis itu. Maka ketika Abu Bakar pertama kali mencoba menjalankan kebiasaan Rasulullah ini, pengemis itu bertanya “Siapakah kamu?” “Aku orang yang biasa.” “Bukan ! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri”, Pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.” “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah, tidak dijadikan sebab untuk beliau merasa lebih dari yang lain, ketika di depan ramai maupun dalam keseorangan. Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk beliau, beliau masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah beliau terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Bila ditanya oleh Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engaku telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?” “Ya Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Comments

comments

Tinggalkan Balasan