Idul Adha: Ajaran Kepatuhan dan Jiwa Sosial

Oleh: Fahmi Fauzi Abdillah

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallahu wallahu akbar. Allahu Akbar walillaahilhamdu.

Tak lama lagi umat Islam seluruh dunia akan merayakan salah satu dari dua hari raya di tahun ini, yaitu Idul Adha. Sebagai umat Islam, tentunya kita harus berbahagia karena kita tidak sekadar merayakan hari besar, akan tetapi yang terpenting adalah memahami esensi dari lahirnya hari raya tersebut. Nah, pada tulisan ini saya hanya akan sedikit membahas hal-hal mendasar dalam Idul Adha atas dasar pengetahuan saya.

Bagaimana Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha?

Dalam pelaksanaannya, hari raya Idul Adha mempunyai dua poin penting yang patut kita pahami, yaitu :

Pertama, penyelenggaraan hari raya Idul Adha pada bulan Dzulhijjah. Pada saat yang bersamaan, jutaan umat Islam dari berbagai negara tengah melaksanakan rukun Islam yang ke-5, yakni ibadah haji di Mekah. Dalam pelaksanaan ibadah ini, umat Islam diajarkan bertoleransi. Hal ini dibuktikan dengan seragam berwarna putih yang disebut pakaian ihram. Keseragaman dalam pakaian ibadah haji menghilangkan perbedaan; baik itu dari segi status sosial, negara asal, jabatan, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang akhirnya menjadi sama atas nama Islam.

Kemudian bagaimana dengan umat Islam yang belum dapat melaksanakan ibadah haji? Berkaitan dengan hal tersebut, Allah SWT menganjurkan kita untuk melaksanakan puasa selama 9 hari (1-9 Dzulhijjah) atau pada hari Arafahnya saja (9 Dzulhijjah). Betapa luar biasanya esensi dari puasa Arafah, sehingga Allah SWT menjanjikan untuk menghapus dosa setahun lalu dan yang akan datang. Seperti dikutip dalam hadis di bawah ini:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Hari Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, dan puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Puasa Arafah itu lebih utama dari puasa Asyura, yang hanya menghapus dosa setahun yang lalu. Sebagian besar ulama memahami dosa yang dimaksud adalah dosa kecil saja dan bukan dosa besar. Tapi jangan mentang-mentang dengan berpuasa itu dapat mengampuni dosa ya, sehingga kita keasyikan berbuat dosa.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hambaNya dari api neraka, lebih banyak daripada di hari ‘Arafah.” (HR. Muslim).

Apa itu Berkurban?

Poin penting lainnya dalam Idul Adha adalah diselenggarakannya kurban. Adapun yang dimaksud kurban secara sederhana adalah menyembelih binatang ternak yang sudah cukup umur; baik itu domba, sapi, kambing, unta, dan lain-lain. Setelah shalat Id pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai tergelincir matahari pada hari terakhir Tasyrik (13 Dzulhijjah). Awal mula dilaksanakannya Idul Adha berdasarkan pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS di dalam Al-Qur’an (QS. Ash-Shaffat [37]: 99-113) yang menjadi dasar hukum dilaksanakannya kurban bagi umat Muslim.

Kisah ini bermula dari penantian panjang Nabi Ibrahim yang menunggu lahirnya seorang anak, namun hal itu baru terwujud kala beliau menginjak usia senja. Akan tetapi tatkala lahirnya Nabi Ismail, beliau harus meninggalkan istrinya Siti Hajar dengan Nabi Ismail di Hijaz (sekarang Mekah) yang dikenal sebagai padang yang tandus.

Setelah terpisah sekian lama, kemudian muncullah perintah untuk menyembelih Nabi Ismail. Mimpi itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Awalnya Nabi Ibrahim ragu untuk melaksanakan perintah tersebut karena takut mimpi itu berasal dari setan. Namun di hari ketiga, beliau yakin untuk melakukan perintah itu. Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. Ash-Shaffat [37]: 102).

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

Selanjutnya, di dalam ayat yang sama Ismail menjawab:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Melihat jawaban Nabi Ismail AS yang senantiasa bersabar dalam melaksanakan perintah Allah SWT, bahkan sebuah perintah yang sebenarnya sulit dicerna oleh akal manusia. Selain itu Nabi Ibrahim pun mempunyai ketegaran untuk mengorbankan anak kesayangannya, dan Siti Hajar juga menjadi istri yang ikhlas terhadap keputusan ini. Luar biasa sekali, kalau kita mendapat ujian semacam ini belum tentu bisa seperti mereka yang memiliki rasa cinta (mahabbah) tinggi kepada Allah SWT dibanding keluarga tercinta.

Singkat cerita, Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail ke sebuah tempat penyembelihan. Tatkala Nabi Ibrahim hendak menyembelih Nabi Ismail, saat itu juga Allah SWT menukar tubuh Nabi Ismail AS dengan seekor domba. Sebagaimana diceritakan dalam (QS. Ash-Shaffat [37] : 104-109):

“Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Isma’il) dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” (QS. Ash-Shaffat [37] : 104-109).

Dari kisah ini, kita dapat mengambil dua poin penting dalam hal hablumminallah (hubungan dengan Allah SWT) dan hablumminannaas (hubungan dengan sesama manusia). Dalam konteks hablumminallaah, Nabi Ibrahim mengajarkan pentingnya menjadi hamba yang taat atas perintah Allah SWT, meskipun berat untuk dilaksanakan. Sedangkan dalam konteks hablumminannaas, adanya kurban ini mengajarkan pentingnya berbagi dengan sesama, karena dengan jalan itulah kita dapat berbagi kebahagiaan bagi orang lain.

10 Dzulhijah 1438 H/1 September 2017
Fahmi Fauzi Abdillah/HI/Fisip/Semester 5/Syiar dan Keilmuan/Komda Fisip

Comments

comments

26 thoughts on “Idul Adha: Ajaran Kepatuhan dan Jiwa Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.