Kamu yang dulu bukanlah yang sekarang

Diambil dari kisah nyata

Oleh : Abdullah Riayatuddin Almustafa Billah Syah

Assalamualaikum #sobat_syahid

Apa yang kalian rasakan saat mendengar kalimat “liburan”, Asyik bukan? Lebih seronok lagi kalau ada bahasa sakti yang selalu dikeluarkan oleh guru/dosen/kepsek/rektor dan semisalnya “anak-anak… sekolah diliburkan” tentu lebih asyik lagi bukan? Apa lagi kalau hanya tempat kita saja yang liburan. Tapi pernah ngga sih kalian bandingkan suasana liburan kalian sebagai anak SD, SMP, SMA, bahkan ketika kalian sekarang sudah jadi mahasiswa/wi. Yuk flashback!!!

Ok kita sedikit rewind. Siapasih yang ngga pernah ngerasain serunya masa SD atau jahiliyahnya masa SMP dan barbarnya masa SMA, kalian juga penah tentunya. Dulu kita pas SD apa sih hal yang paling sering kita lakuin waktu kosong misalnya; liburan?, main ke rumah temen yang ortunya welcome (ini sebelum adanya wifi dan smartphone), atau main kelayapan kemana-mana bahkan paling sering tuh kita sering ditakut-takutin “awas loh kalo balik magrib nanti diculik jin”, paling serunya lagi kalau sepedaan trus ban belakangnya dikasih gelas plastik bekas minum yang bunynya mengelegar, lebih brisik dari pada knalpot honda beat® mbrrrrr. Ouh betapa indanya masa SD yang dulu ngga ada rasa berdosa sama sekali, mau ngelakuin apa aja ada ortu yang backup. Mulai dari makanan, pakaian, even uang jajan kita pun rasanya dulu dapet ceban (baca;sepuluh ribu) aja udanh kaya sultan, ya masa kecil gituloh dosa ada yang nanggung juga hehehe, itu juga kalau kena masalah apa-apa yang jadi target “ni bocah anak siapa sih”. Dimaasa itu kita bisa tertawa dan bahagia lepas tapi ini sudah berlalu.

Terus berkembang tubuh kita dengan hormon pertumbuhan yang semakin memuncak, yang dikit-dikit udah mulai suka lawan jenis. Yap itulah masa SMP masa dimana kita beranjak dari jamannya kita tidak peduli akan penampilan menjadi fashionista, melirik kanan melirik kiri tebar pesona sana-sini cari perhatian ke siapapun (kecuali anak nolep), juga udah mulai pilah-pilah temen atau bahasa lainya nge-gang, mulai dari geng anak hype kayak sinetron anak jalanan, geng anak atletis yang kuproy (baca;kuli proyek), geng anak musik yang suka gandeng (baca; brisik(sunda)), geng anak anime, sampe geng anak nerd yang klo nanya di akhir kelas guru killer bilangnya “oya bu..  kemarin ibu ngasih tugas bla bal bla” yang langsung ultimate jadi musuh bersama. Dan masa ini juga kita mulai mengenal dikit-dikit tangung jawab dan rasa malu, sudah dibiasakan untuk bisa minimal mengurus diri sendiri ngatur jadwal sendiri, bahkan mngkin sebagian dari kita ada yang memulai hidup berfinansial mandiri. Liburanya pun juga kelayapan Cuma kali ini beda kelas, kelayapanya ya ke Mall atau XXI atau nyepi di warnet kesayangan kita dengan memasang biling yang ngga ngotak. bareng temen se-gang atau bareng gebetan, tanpa memikirkan dari mana dana kelayapan kita berasal atau memikirkan keamanan kita pribadi yang pastinya orang di rumah mulai khawatir Begitu juga kita merasa kangen masa SD lagi yang dimana kita bebas melakukan apapun itu tanpa mengenal dosa, sekarang sudah baligh sudah mulai menangung resiko sendiri-sendiri. Hilanglah sedikit-sedikit tawa dan canda bahkan senyuman masa kecil kita.

Lanjut lagi kemasa-masa SMA yang dimana kita sudah berlaga layaknya orang dewasa dengan kematangan pemikiran kita tapi masih rada-rada kebocahan juga dan kokohnya fisik tubuh kita, sebagian dari kita masih terperangkap alam kisah cinta merah jambu masa SMP atau mugkin sudah move on dengan dalih Ujian Nasional, sebagian kita mulai sibuk mengurusi peminatan IPA atau IPS, mungkin yang dari kecilnya cita-citanya sudah dititi sejak dini langsung paham targetnya, sebagian lainya?. ya… pasrah dengan keadaan atau ikut keputusan ortu. Dimasa ini jaman-jamanya kita mulai paham apa itu lingkungan apa itu solodaritas apa itu sex apa pentingnya pemasukan dan lain-lainya. Sebagian kita juga yang di SMK mulai menekuni bidangnya sehingga lulus nanti bisa langsung bekerja, di masa ini juga ibaratnya apa yang kita pelajari dan budayakan sejak SMP di upgrade malah kita pengen kehidupan yang lebih bebas dari belengu masa sekolah dan oarang tua. Masa ini juga disebut masa yang tak terlupakan dalam kehidupan kita, coba aja bayangin kanan kiri kalian yang masih homesick sama SMA nya dulu, sama temen SMAnya dulu, sama gurunya juga apa lagi yang paling baik sampai paling ngeselin. Liburanya pun udah mulai kayak creatures of the night mulai menikmati dunia malamnya kota metropolitan, begitu juga kelayapanya udah mulai lintas provinsi apa lagi malam minggunan. Mau sama gengnya atau berduaan sama seseorang, dan uniknya kita mulai menekuni liburan yang sesuai dengan passion atau hobi kita, misalkan dulu pas rame-ramenya film 5cm© munculah anak-anak pecinta alam Dan lain-lainya dengan inspirasinya masing-masing. Sampai akhirnya kita sibuk dan mulai mengenal apa itu panik dan stress, banyak masalah psiko yang mulai muncul dan masalah kesenjangan sosial antara yang diterima di PTN dan yang belum bisa kuliah taun ini sebagian lainya masuk akademi atau sekolah kedinasan yang lainya. Disini orang tua sudah mulai lepas tangung jawab sediki-sedikit sama kita puncaknya pada akhir UN dan masa transisi dari anak SMA jadi mahasiswa dari orang yang hilang arah jadi pemilik jati diri. Hilanglah setengah dari tawa dan canda bahkan senyuman masa SMA kita.

Dan sekarang jadilah mahasiswa, masa yang dimana kita terbiasa dipanggil “pak”dan“bu” sama anak-anak SD atau ya klo masih awet muda ya di panggil “kak” wkwkwkwk, masa yang dimana kita mulai malu minta duit ke ortu, mulai mikirkan masa depan muali dari karir, keluarga, dan calon istri. Mulai juga rasa kepekaan sosial dan rasa tengang rasa terhadap sesama, Mulai malu kalau ngelakukan hal yang tabu dan kebocahan, baik kita anak kost atau aanak asrama atau anak PP (baca;pulang pergi) rasanya semuanya sama kita rasakan seperti itu paling perbedaan sigifikannya haya dipersoalan mahasisawa aktifis sama yang bukan aktifis. Pas ini juga kita menyadari kalau sebentar lagi akan pisah dengan orang tua maksudnya pisah tangung jawab, ortu mulai hanya support dengan doa saja sebagian yang beruntung mungkin dengan materil juga. Kita juga mulai memperhatikan kadang tersingung dengan omomngan negatif tetangga kepada kita, “ih liat tuh bu anaknya fulan masih penganguran aja, padahal udah 3 tahun lulus kuliah” dan lain-lainya yang suka bikin kuping kita merah. Akhirnya kita mencari pelarian ada yang melarikan diri ke organisasi ada yang ke yayasan ada yang kepesantren ada yang freelancer ada yang jadi voulenteer dan sebagai macamnya. liburanpun kita mulai panik jika kebanyakan nganggur, rebahan pun tidak bisa tenang baik itu karena banyaknya tugas, banyaknya job yang kita ambil, ataupun kehawatiran besok bisa makan apa dan dari mana uang buat bayar kost atau kuliah, kadang suka kepikiran juga kalau ada apa apa sama keluarga dirumah yakan?. Ya akhirnya senyuman bahkan canda tawa kita jarang sekali terdengar dimasa ini.

Sumber : http://pixabay/freephotocc

Oya survei menarik, menurut pakar psikologis anak kecil lebih banyak tertawa dibandingkan orang dewasa hal ini disebabkan oleh faktor tanggung jawab, moral dan beban hidup. Inilah fakta kehidupan guys semakin kalian menua semakin kalian akan banyak bersyukur ingin balik lagi kemasa kecil kalian yang tidak ada batasan apa-apa dalam pergaulan kita, tidak memikirkan uang, karir, bahkan dosa sendiri. Inilah liburan ala kita liburan ala mahasiswa yang dipenuhi dengan belajar, baca buku, dialog pemikiran, menekuni bisnis dan usaha, bekerja part time dimanapun itu, atau mungkin mengurusi sesuatu sesuai amanah masing-masing kita, ataupun menambah pengalamandan skill kita.terkadang dalam diri kita sendiri menyadari seringnya kita menagis dan bersedih dewasa ini ketimbang tertawa dan bahagia masa kecil dulu. Akan tetapi ini semua kita lakukan buakan karena terpaksaan, melainkan tuntutan masa dewasa sebagaimana orang tua kita dahulu yang merasakanya. Dan kamu bukan satu-satunya yang merasakannya juga.

Belajarlah dari perjuangan hidup seekor cicak. Cicak tidak bisa terbang sedangkan makannya kebanyakan hewan yang bisa terbang apakah cicak stres? Tidak tapi dia memanfaatkan anugerah tuhanya dengan lidah yang panjang dan gerakan yang cepat. Sama seperti kehidupan kita walaupun sekarang saya, kamu, kita, mereka yang dulu bukanlah yang sekarang tapi yakinlah proses kehidupan kita akan berjalan sebagaimana kita menjalaninya, kalau kita rajin mengasah pisah inysallah pisau itu akan berguna kelak walaupun harus digosok kasar, yakinlah bahwa biji emas yang dilebur dengan panas yang sangat panas dan ditempa sekeras-kerasnya akan menjadi benda yang berharga suatu saat. So kesimpulanya apakah liburan kalian masih seperti dulu atau sudah berubah menjadi liburan yang produktif?. Jawabanya tanyakan pada diri kalian.

#liburanprouktif #liburankorona #ldksyahid #ayomenulis #kitadalahsaudara

Comments

comments