AKU INGIN CANTIK DI MATA ALLAH

Dengan langkah percaya diri ala ‘rambut badai’ aku dan temanku menyusuri lorong kelas, menebar senyum semanis mungkin kepada setiap orang. Mencoba menarik semua perhatian kaum laki-laki yang melihat. Itulah aku, berusaha terlihat cantik di depan semua orang dengan tersenyum dan menyembunyikan jati diri di balik senyuman. Cantik , kebanyakan wanita ingin menjadi cantik, alasannya agar menjadi pusat perhatian, dipuji oleh banyak orang atau bahkan menjadi rebutan dari para lelaki. Aku dulu adalah salah satu wanita yang memikirkan standar kecantikan seperti itu.

Namaku adalah Fatimah. Aku adalah remaja pindahan dari Pedalaman Jawa ke Jakarta, demi mengikuti orangtua yang memiliki usaha di kota tersebut. Cruella adalah teman baru ku. Kami teman beda kelas, hanya bermain di luar sekolah. Aku kenal cruella tidak sengaja. Saat itu aku menunggu ojek langgananku di depan sekolah, namun tak kunjung datang. Lalu, cruella menawarkan diri untuk mengantarkan ku pulang. Saat itulah kami akrab.

Cruella selalu mengajakku bermain atau akrab disebut oleh anak muda sekarang adalah “nongkrong” hingga larut malam. Bagi sebagian teman-temanku yang telah lama ada di Jakarta dan sering nongkrong bareng adalah hal yang biasa. Sedangkan aku sibuk memikirkan “bagaimana pulang?” atau “apa tidak akan dimarahi pulang selarut ini?” Setiap kali menanyakan itu, cruella hanya menjawab “Udah sih, santai aja kali. Nyokap bokap lu kan pernah muda, pasti pahamlah. Lagian cewek Jakarta ngga cantik kalo ngga nongkrong.” Bahkan, cruella memaksaku mengenakan make-up saat berangkat sekolah. Alasannya adalah agar aku terlihat cantik, tidak disepelekan, dan dipandang sebagai cewek yang pandai bersolek. Memang benar sekali. Teman-teman sekelasku, bahkan laki-laki banyak memujiku.

Sesekali cruella mengajakku ke salon untuk memanjakan mahkotaku agar terurai indah. Rasannya memang menyenangkan. Tapi untuk mendapatkan itu semua aku harus merogoh uang jajanku selama sebiulan. Bagian inilah yang menyebalkan bagiku. Tentu saja, ketika teman-temanku akan makan di kantin, aku malah diam saja di kelas, melihat mereka makan.

Suatu ketika di kelasku sedang ramai, tidak seperti biasanya mereka ngumpul, lalu aku menghampiri, kemudian Milla langsung menanyai pertanyaan “Lu ngga jajan, mah?” lalu aku menjawab “ah, ngga ada duit. Kemaren diajak ke salon sama cruella.” Menjawab dengan nada rendah.

“Makanya jangan gaya lu. Duit masih minta aja, gaya ke salon. Bersyukur aja sih, haha” tutur Milla teman sebangku ku di kelas

Begitulah Milla. Dia selalu bercanda setiap memberi nasihatnya dengan baik, yang terkesan tidak menggurui. Sesekali aku merenungkan kata-katannya. Benar juga yang dikatakkan Milla.

Entah, mengapa setelah mendengar nasihat Milla tersebut, seperti ada yang meyerang hatiku, membisikkan ke telingaku bahwa : “Yang selama ini ku lakukan adalah salah.”

Aku salah, mengaharapkan pujian-pujian kecil dari mata laki-laki nakal di sekolahku. Padahal, aku bisa mendapatkan pujian itu dengan cara lain. Misalnya, sahabatku di Jawa yaitu Sarah. Dia adalah penghafal Al-Qur’an terbanyak. Dia pandai dan berprestasi. Dia dipuji bukan karena wajah/fisik yang rupawan saja tapi karena prestasinya.

Semakin hari aku semakin mengerti bahwa kecantikan itu bukan berarti harus bersolek, mengenakan pakaian bagus, pergi ke salon, bahkan nongkrong bersama teman-temanku hingga larut malam.

Aku menghubungi Sarah, sahabat terbaikku dulu. Aku meminta agar diajarkan ilmu agama yang dia ketahui agar semakin hari aku semakin tahu. Dengan senang hati, Sarah mengajarkanku. Melalui pesan singkat aku memberi pertanyaan kepada Sarah:

“Rah, gimana caranya bisa kaya lu? Temen-temen selalu memuji lo dulu. Bilang lu cantik, pintar, ngga kuranglah. Gue iri sama lo? Terus gue bingung nih cara keluar dari lingkungan ngga baik”

Selang beberapa menit, aku menerima balasan dari Sarah. Balasan itu cukup ngena hatiku:

“Mah, Cantik itu relatif. Bagi orang yang menyukaimu, mereka akan bilang kamu cantik, dan orang yang tidak menyukaimu adalah sebaliknya. Tapi kamu tidak rugi, juga tidak beruntung bila mereka memujimu atau membencimu. Namun kamu sangatlah beruntung bila Allah mencintaimu, dan sangat rugi bila Allah membencimu (Nauzubillah). Ada banyak cara mendapatkan cinta Allah. Caranya dengan kita menjalankan apa yang Allah perintah dan menjauhi apa yang Allah larang. Salah satunya adalah dengan berhijab, berhijab adalah perintah Allah untuk wanita. Berhijab adalah cara Allah sayang ke kita, dengan berhijab, Allah lindungi kita dari lingkungan- lingkungan tidak baik. Dengan hijab kita akan terus termotivasi untuk melakukan kebaikan-kabaikan. Dan merasa malu jika melakukan keburukan. Wanita yang hatinya baik, dekat dengan Allah,berakhalak baik, dan mencari Ridha Allah jauh lebih cantik. Maaf yaa aku bukan maksud menasehati tapi sama-sama belajar.. ”

Seminggu setelah itu, aku mendapatkan pencerahan, aku mantapkan untuk berhijab dan hijrah mendapatkan cinta Allah. Aku berhijab karena Allah yang minta, bukan orang lain. Jadi, penampilan ini ya untuk Allah, bukan untuk dinilai orang lain. Aku sadar, cantik yang sebenarnya harus dijaga dan dilindugi, bukan diumbar untuk umum, aku mantapkan hatiku untuk berhijab meski belum syar’i. Alhamdulillah, sekarang aku berhijab. Aku perbanyak ilmu dan lebih mengatur kata-kata yang keluar dari mulutku. Kecantikan dunia akan sirna dengan waktu, tapi kecantikan akhlak seorang muslimah sejati akan kekal. Semoga aku lekas berhijab syar’i., doakan aku ya teman-teman.

Pandanganku mengenai cantik berubah 180 derajat. Dulu, cantik itu pasti patokannya ya fisik ; kulit putih, muka mulus, rambut panjang hitam kemilau, dan tubuh proporsional. Sekarang pandanganku sudah beda. Cantik itu bukan fisik, melainkan hati dan akhlak, yang dengan kecantikan itu bisa meneduhkan orang-orang berada disekitar kita. Dan terpenting apa yang kita lakukan bermanfaat untuk orang sekitar. Aku ingin memantaskan dan memperbaiki diri, mempercantik akhlakku lagi. Aku ingin cantik di mata Allah.

Nama Lengkap             : Helmisari Dwi Putri
Instansi                         : UNJ
No. HP                          : 087770782077
Email                            : helmisaridwiputri@gmail.com

Comments

comments