Cinta di Atas Cinta

Sekuntum cahaya terjatuh pada permukaan kelopak mataku yang bermandikan lelah dalam kereta yang tengah aku tumpangi, seketika kedua mata ini terbuka menyambut cahaya dari lampu stasiun yang memancar. Langkah kakiku mulai bergerak meninggalkan rentetan gerbong kereta padat cerita itu dan bergegas menepi pada stasiun di sudut ibu kota yang remang menyambut subuh.

“ Erika..”

Suara lelaki yang memangil namaku itu terdengar jelas di telinga ini. Suaranya sama sekali tidak asing, sebuah suara yang melunturkan segala rasa lelah yang bersarang di tubuhku, aku segera membalikkan badan dan menatap dengan jelas langkah kaki lelaki yang sangat aku cintai itu, Rangga. Kini ia tepat berada di hadapanku, seketika ia memeluk tubuhku di bawah remang cahaya lampu stasiun, bersamaan dengan itu hujan di bawah naungan kelopak mata ini mengalir begitu saja tersebab haru yang menyerang langit perasaanku, ada sesak yang seketika runtuh dalam dekapannya. Bagaimana tidak, aku dan Rangga sudah menjalani LDR selama 4 tahun dikarenakan ia harus mengambil beasiswa pendidikannya di Singapura pada sebuah universitas di sana, National University of Singapore. Sedang aku merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia, demi mewujudkan cita-citaku menjadi seorang aktris dan seniman profesional. Sebenarnya Rangga sempat pulang ke Jakarta di tahun ketiga kami berpisah, namun saat itu aku sedang berada di Makassar untuk sebuah proyek film dan ia tidak sempat menungguku dikarenakan hanya berada di Jakarta selama lima hari. Sedang di tahun ketiga kami berpisah ia pulang ke Jakarta dan mengabarkan bahwa ia telah lulus dari kuliahnya, tentu saja aku sangat senang mendengar itu sehingga aku pikir tak perlu buru-buru untuk kembali ke Jakarta karena saat itu aku sedang mengurusi persyaratan wisudaku. Di luar dugaan kami, ternyata Rangga mendapat tawaran bekerja di Singapura pada sebuah perusahaan besar di sana, dan aku sebagai kekasih Rangga tentu harus mendukungnya, aku menyetujui ia kembali ke Singapura tanpa menungguku demi kariernya. Kini di tahun keempat kami berpisah ia bisa kembali ke Jakarta dikarenakan libur dari pekerjaanya untuk beberapa minggu, dan kali ini kami tidak bisa lagi untuk menunda temu.

Ketika berada di pelukan Rangga menjelang subuh itu aku melihat seorang perempuan berbalut kain yang menutupi tubuhnya, tak ada yang terlihat melainkan kedua matanya yang sangat indah, ia tampak tengah melihat kearahku dan kemudian menghilang memasuki mushola di stasiun. Aku tahu, pasti ia merasa jijik melihatku dan rangga yang berpelukan, tapi aku tak peduli sama sekali, lagipula kami saling mencintai, pikirku.

Satu minggu menjelang Rangga kembali ke Singapura, kudapati kabar dari manajerku bahwa aku mendapat tawaran untuk bermain pada sebuah film garapan seorang sutradara yang sangat terkenal di negeri ini, bahkan ini adalah impianku sedari lama untuk bisa bermain dalam film yang di sutradarainya, tentu saja aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ku beritahu Rangga akan hal ini, ia pun ikut bangga mendengar pencapaianku. Awalnya ia menawarkanku untuk mengantar ke Yogyakarta, namun ia masih ada keperluan, hingga aku memutuskan untuk pergi lebih dulu dan Rangga akan menyusul ke Yogyakarta untuk menemuiku sekaligus liburan. Ia hanya mengantarku sampai Stasiun, dan kamipun mengukir cerita perpisahan disana.

“ Rangga.. aku menunggumu di Jogja,” tuturku sambil menghadiahinya sebuah senyuman.
“ I will come to you, Erika.”

Sabdanya dengan mata yang berbinar menatapku penuh makna, hampir saja ia memelukku tapi kereta akan segera berangkat, dia segera menyuruhku untuk pergi. Aku segera melangkah menuju kereta sembari menolehnya dan memberi isyarat antara ibu jari dan telunjuk yang menyilang membentuk simbol cinta negara Korea, dan ia hanya melempar senyum melihat tingkahku.

Aku mulai melabuhkan tubuh pada kursi kereta dengan senyum dan rona bahagia yang masih melekat selayaknya sikap jatuh cinta anak manusia. Tiba-tiba, aku menoleh ke arah samping tempat dudukku. Seorang perempuan bercadar itu, iya. Perempuan yang waktu itu aku lihat di stasiun saat aku tengah memeluk Rangga, sepertinya aku tidak salah lagi, karena aku ingat persis akan mata indah perempuan ini.

“ Mau kemana, mbak?”

Suara perempuan itu menyapaku, dan aku cukup terkejut karena tengah serius membalas pesan Rangga.

“ Saya mau ke Sleman, kalo kamu?”
“ Oh ya? saya juga mau ke Sleman.”

Akupun mulai membuka obrolan dengannya, yang kini ku ketahui bahwa ia bernama Arsy. Kamipun berbincang lebih jauh bersama laju kereta yang bergerak meninggalkan segala riuh ibu kota dengan segala pesona dan kenangannya, awalnya aku mengira dia adalah orang yang kaku, tapi setelah kami mulai berbincang aku sangat menyadari bahwa ia adalah seoarang wanita yang sangat cerdas dan elegan walaupun penampilannya sangat tertutup dan cukup aneh bagiku. Setelah kutelusuri lebih jauh, ternyata ia dalah seorang dokter lulusan Universitas Gajah Mada. Aku semakin penasaran dengannya, sepanjang perjalanan, kami banyak sekali berbincang-bincang sampai aku tak mempedulikan pesan yang masuk dari Rangga. Banyak sekali hal yang menarik dari Arsy yang ingin aku cari tahu, namun ia mulai terlihat mengatuk, dan akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat.

Suara azan menggema di Stasiun Sleman pagi itu, kedatangan kami di sambut hujan yang sangat deras, bahkan bersama petir yang menggelegar. Aku yang memakai pakaian mini tentu sangat kedinginan, celakanya jaket dan syalku tertinggal di kereta.

“ Pakai ini!” Arsy mengenakan jaket tebalnya untukku, dan akupun tersanjung melihat sikapnya.

“ Erika, gimana kalo kamu ikut ke rumahku aja dulu? lokasi hotel yang mau kamu tuju kan lumayan jauh, sedangkan hujan makin deras dan kamu udah menggigil banget, nanti kamu bisa sakit.”

Sejenak aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pulul 04:45 WIB, sepertinya akan susah membangunkan manajerku untuk menjemput. Akhirnya aku setuju untuk ikut ke tempat tinggal Arsy yang dekat dari stasiun. Kami di jemput oleh sepupu Arsy pagi itu, sesampainya di kediaman Arsy, ia langsung mengajakku untuk melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu, seketika aku tersentak perasaan yang sama sekali tidak bisa untuk aku jelaskan, karena entah sudah berapa lama aku tidak melaksanakan shalat dikarenakan kesibukanku, dan keluargakupun sangat jauh dari agama, hari-hari kami di sibukkan oleh urusan dunia. Seorang pembantu Arsy menyambut kedatangan kami dengan hangat. Di rumah itulah pertama kalinya aku melihat secara jelas wajah Arsy dan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian rumah yang pendek namun tetap lebih sopan daripada pakaian yang tengah aku pakai. Ia terlihat begitu cantik, di luar dugaanku yang mengira ia menutupi tubuhnya hanya untuk menutupi kekurangnya, aku justeru melihat sebaliknya. Arsy menjadi imam untuk shalat subuh kami dengan begitu khusyuk, lantunan demi lantunan ayat suci al-Quran menembus telinga, dada, dan perasaanku. Seketika tubuhku terasa lemas, ada sesak yang tak bisa ku jelaskan. Rintikan air mata yang mengalir melebihi deras hujan di luar sana, seketika aku merasa sangat kotor dengan diriku sendiri. Saat mengamini al-Fatihah yang terdengar dari mulut mungil arsy, suaraku bergetar dan tak kuasa menghentikan air mata hingga salam.

Usai shalat selesai Arsy terheran melihatku yang menangis dengan sangat terisak, ia menanyakan keadaanku, dan aku katakan bahwa aku baik-baik saja. Lalu ia menawarkanku untuk mengikuti kajian pada siang nanti di salah satu masjid di dekat rumahnya, setelah itu akan mengantarku menuju hotel. Aku tidak enak untuk menolak, maka ku kabarkan pada manajerku untuk pergi ke hotel saat malam harinya saja, sedang pada siang hari aku berencana mengikuti Arsy ke pengajian.

Saat tiba di masjid tempat kajian berlangsung, aku mengenakan pakaian panjang dan celana jeans, lengkap dengan selendang yang menutupi setengah rambutku. Saat memasuki masjid aku melihat remaja-remaja di sana telah bersiap menerima kajian dari ustadzah. Seketika aku merasa aneh karena pakaianku berbeda sendiri, bagiku ini adalah pakaian yang paling sopan yang pernah aku pakai, tapi saat berada di antara mereka, rasanya aku seperti telanjang. Aku dan dokter Arsy duduk di barisan belakang, pada power point ustadzah aku melihat tema kajiannya adalah “Hijab; Bukti Cinta”. Saat kajian akan dimulai tiba-tiba panggilan masuk dari Rangga, aku bingung hendak mengangkatnya atau tidak, tapi akhirnya aku mengangkat dan hanya menyampaikan bahwa aku sedang lelah, sehingga ia menutup telepon dan memintaku untuk menjaga kesehatanku. Awalnya kajian terasa sangat membosankan, hingga ustadzah mulai memasuki bahasan mengenai hijab, di sana beliau menjelaskan bahwa sejatinya hijab di perintahkan kepada perempuan muslim adalah sematamata untuk menjaga kehormatannya dan orang-orang di sekitarnya, setelah itu dijelaskan pula bahwa apabila seorang anak perempuan tidak menutup auratnya maka ia akan menarik keempat kaum laki-laki menuju neraka, yaitu; Ayahnya, saudara lelaki, anak lelaki, dan juga suaminya. Seketika perasaanku hancur mendengar semua itu, diumurku yang ke-23 aku belum menggunakan hijab, padahal perintah hijab wajib hukumnya saat sudah memasuki usia baligh bagi muslimah. Akupun menangis sejadi jadinya. Seketika aku jatuh dalam pelukan Arsy.

“ Astaghfirullah.. masih adakah ampunan dari Allah untukku, Arsy?”
“ kamu bicara apa, Erika? tentu Allah akan mengampuni semua dosa hamba-Nya yang bertaubat.”

Mendengar jawaban Arsy aku sangat merasa lega, namun aku benar-benar ingin bertaubat saat itu juga. Aku mendapat nasihat dan semangat dari ustadzah yang memberikan kajian saat itu, ia menceritakan pengalaman pahit dan gelap hidupnya saat jauh dari tuntunan agama, bahwa dulu ia adalah seorang pekerja sex komersial, hingga ia menemukan Islam sebagai petunjuk hidupnya. Ustadzah lalu memakaikanku kerudung yang panjang dan gamis dari mobilnya sembari memelukku, dalam pelukan itu ia berbisik.

“ Nak, Allah itu Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Ia menerima taubat dari setiap hambanya tanpa terkecuali, raihlah ampunannya sebelum maut menjemut, kita semua tak pernah tau kapan maut bertamu.”

Di sepanjang perjalanan menuju hotel, suara ustadzah itu begitu membekas dalam ingatan. Sesampainya di hotel, Arsy segera bergegas pergi untuk bertugas di klinik miliknya, dan seketika manajerku terkejut melihat penampilan baruku.

“ Erika, apa-apaan ini? Kamu bercanda, ya? Kenapa belum siap, malah berpakaian aneh? Sutradaranya udah ningguin lho.”

“ Enggak mbak Sasha, aku nggak bisa ambil proyek ini. Sekarang aku berhijab, mbak. Aku nggak akan mengambil pekerjaan yang tidak mengizinkanku untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah.”

“ Kamu gila, ya? Ini adalah mimpi kamu sejak dulu, kamu udah banyak berjuang selama ini. Kalo kamu ambil proyek ini, pasti karier kamu akan segera mencapai puncaknya. Kalo kamu menutup tubuhmu dengan hijab, maka akan tertutup pula karier kamu, tertutup kesempatan untukmu meraih mimpi, dan tertutup pula..”

“ Cukup Mbak! ini keputusanku. Tak apa aku kehilangan semua harapanku di bumi, asal tidak dengan amapunan Allah untukku, asal tidak tertutup surga untukku.”

“ Ayah.. demi Allah! ini semua Erika lakukan untuk Allah, atas cinta Erika terhadap Ayah juga. Erika mencintai Ayah, Erika Cuma mau jaga kehormatan Erika, Ibu dan Ayah. Erika nggak mau kalau Ayah sambai terseret ke neraka atas dosa Erika, Yah. Begitu juga untukmu Rangga, mulai saat ini kita tidak lagi sebagai sepasang kekasih. Jika memang Allah takdirkan kamu menjadi imamku kelak maka kita akan di persatukan kembali, apa yang aku lakukan hari ini adalah demi menjaga kehormataan suamiku dan bukti cintaku untuknya. Perihal orang itu adalah kamu atau bukan, biar Allah yang menjawab.”

Ungkapku penuh isak di depan ayah, ibu, dan Rangga. Ayah sama sekali tidak peduli dengan penjelasanku. Ia mengusirku dari rumah, ibu telah menenangkannya, namun ayah tetap pada pendirianya yang keras kepala. Sedang Rangga hanya menatapku berselimut bingung di wajahnya.

Aku kembali menemui Arsy di Jogja, aku tinggal bersamanya dan memulai karier sebagai sutradara film di Yogyakarta. Dua tahun setelahnya aku berhasil memproduksi beberapa film layar lebar, menjadi sutradara sekaligus pemain pemeran utama bersama rumah produksiku yang berfokus pada film berorientasi dakwah, dan hubunganku dengan orangtu aku mulai membaik, mereka menemuiku di Jogja dan mengajakku pulang, rupanya Allah telah meluluhkan hati ayah, dan kami mulai mempelajari Islam secara bersama.

Di luar dugaan, tak lama setelah aku pulang ke Jakarta, Rangga datang melamar. Rupanya selama di Singapura ia telah mempelajari Islam secara mendalam dengan salah seorang imam masjid di sana, kini ia datang membawa hapalan 5 juz nya. Aku hanya menjawabnya dengan air mata, pertanda aku menerima lamarannya. Ternyata persembahan bukti cintaku untuk orang yang aku cintai, Allah balas dengan cinta yang tak terduga. Semua ini mengajarkanku, bahwa bila kita meletakkan cinta untuk Allah di atas segala cinta terhadap kenikmatan dunia dan mahluknya, maka mudahlah bagi Allah untuk mendatangkan cintacinta yang lainnya untuk kita.

Biodata Penulis
Nama : Juita Kenanga Sari
Instansi : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
No. HP : 082377820131
Email : juitakenangasarimz@gmail.com

Comments

comments