“Karena Kita Berharga”

Namaku Keisya. Lengkapnya Keisya Nur Rahmah. Langkah kakiku pagi ini rasanya lebih percaya diri dari hari-hari sebelumnya saat pergi ke kampus. Aku berkuliah disalah satu Universitas Negeri yang berada di Kota Malang. Panasnya siang hari itu mulai menyapa tubuhku yang kini dilindungi hijab syar’i. Eh, hijab syar’i? ya itulah pilihanku sekarang dan InsyaaAllah semoga sampai akhir perjalanan hidup ini.

Alhamdulillah, liburan semester kemarin hidayah itu akhirnya ku jemput. Mungkin sudah lama Allah berikan hidayah-Nya, hanya saja manusia seperti kita ini yang tak peka, bahkan ada yang bilang “bahwa hidayah itu bukan ditunggu tapi dijemput”. Ya, aku sangat setuju dengan hal itu. Beberapa bulan yang lalu aku mulai belajar lagi banyak hal tentang hijab. Terutama bagaimana ketentuan yang sebenarnya perempuan dalam berhijab.

Aku tidak malu untuk bertanya kanan kiri, berdiskusi panjang lebar, berselancar di dunia maya, hingga akhirnya aku tahu kewajiban muslimah bukan hanya harus menutup auratnya namun juga wajib sesuai syariat. Liburan semester kemarin juga ku isi dengan membantu bunda membuat aneka gorengan untuk dijual di pasar. Aku menikmati sekali hari-hariku itu, ya lumayan sangat sibuk, tapi semoga saja dapat bermanfaat.

Aku merasa bersyukur dapat mengamalkan kewajiban berhijab syar’i ini. Walaupun aku akui, semuanya memang masih belajar. Karena sebelum ini banyak sekali hal-hal yang tidak ku ketahui, bahkan jika mengingat aku yang dulu hanya menggunakan sehelai kain tipis yang ku kibarkan menjadi dua bagian diatas kedua bahu, rasanya aku malu. Sungguh ini pelajaran baru yang awalnya sama sekali tidak mau aku tahu. “Bismillah yaAllah, bantu aku Istiqomah berhijab syar’i” aku masih berdiri didepan cermin sembari merapikan kerudung ku dan terlintas kuberikan senyuman manis terbaikku dipagi ini . “Semoga penampilan baruku ini lebih Allah ridhoi, serta bisa menginspirasi sahabat-sahabatku,” aku berdoa penuh harap dalam hati.

Sesampainya di kampus aku langsung menemui teman-teman yang sedang berada di taman, sebelum mengikuti mata kuliah pada hari itu, aku ingin menyegarkan pikiran dengan bertukar cerita tentang liburanku dengan mereka. Tak terasa perjuangan kami tinggal setahun lagi meninggalkan bangku kuliah ini dan meneruskan cita-cita kami selanjutnya dimasa depan. Shiva, Reina, dan Yumna. Mereka adalah ketiga sahabatku.

Kenyataannya memang kepribadian kami sangat berbeda satu sama lain, namun bukan berarti kami tidak dapat bersahabat. Takkan pernah mampu kulupakan bagaimana empat tahun ini kami melewati hari-hari yang penuh dengan tugas-tugas kampus, dan perjuangan kami yang lainnya. “Assalamu’alaikum guys..” salamku dari belakang. Tapi anehnya, mereka kompak membalikkan tubuh tanpa menjawab salamku. Mereka lalu melihatku dengan sangat sinis. Tak berkedip.

Pandanganku teralihkan dengan angka jarum jam yang sudah menunjukkan waktu mata kuliah pertama akan dimulai. Kemudian aku mengakhiri sapa ku yang tak terjawab. Aku mencoba berbaik sangka, mungkin saja mereka sudah menjawab salamku dalam hati. Karena Allah yang lebih tahu kebenarannya. Aku tak ingin menduga-duga, lagi pula di dalam kelas nanti kami juga dapat mengobrol seperti biasa.

Namun perasaan cemasku tak bisa kututupi. Aku terus berfikir. Ada apa dengan mereka? Apa karena tidak suka melihat penampilanku yang sekarang seperti ini? Lalu aku berpikir lagi. Apa karena kerudung yang pernah Reina hadiahkan untukku dua bulan yang lalu itu tidak kupakai? Ya, memang aku tak mau lagi memakainya. Tapi bukan apa-apa. Karena saja aku sudah tahu sekarang, bahwa kerudung seperti itu tidak sesuai dengan syariat. Aku hanya ingin menaati Allah dengan aturan berhijab yang diperintahkan-Nya.

Langkahku yang lemah mengantarkanku sampai duduk di bangku kelas. Ruangan yang banyak menyimpan cerita. Mulai dari mahasiswanya, penampilan kelasnya, bahkan para dosen yang sangat mengesankan. Aku mengucap salam lagi. “Assalamu’alaikum…” Beberapa temanku menjawab, kecuali Yumna, Shiva dan Reina. YaAllah.. salahku apa? Apa yang membuat mereka secepat itu berubah kepadaku?

Hari pertama masuk kuliah di semester ini, dosen dikelas kami sudah hadir tepat waktu. Pak Rahmat, beliau mengajar mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia. Kelas dimulai dengan berdoa bersama. Pak Rahmat pun mengucap salam.Seisi kelas menjawab salam. Namun Yumna, Shiva dan Reina menjawab dengan lebih antusias. Lalu mengapa saat giliran aku mengucap salam seperti tadi tak ada satupun dari mereka yang menjawab? Dalam hati aku bertanya-tanya. Sebagai seorang wanita, tentu aku juga sangat berperasaan sekali.

“Baik, mohon maaf sebelumnya Bapak ada seminar penting di auditorium hari ini, maka untuk itu tolong kalian buat cerita tentang pengalaman liburan kalian kemarin ya, minimal satu halaman, dan ditulis tangan”

“Keisya? Ini benar kamu Keisya?” tiba-tiba Pak Rahmat menatapku penasaran.

“Iya, Pak saya Keisya. Kenapa, Pak?”

“Ohh saya kira mahasiswi baru, soalnya beda penampilannya” jawab Pak Rahmat kembali.

Tiba-tiba suara kencang memecahkan hening kelas yang sejak tadi memandangku dalam diam.

“Hahaha.. beda gimana Pak? kayak ustadzah gitu ya? kaya Ibu-Ibu Hajah?” hati ini rasanya perih sekali karena ternyata itu adalah suara Yumna.

“Hahaha..” suara tawa lain pun beriringan ikut mengejekku. Beberapa ada yang tersenyum kecil, ada pula yang hanya nyengir, tapi tak banyak yang ikut mengejek seperti bisik-bisik.

“Sudah.. hati-hati bicaranya. Cepat dimulai dari sekarang selesaikan tugasnya!” Pak Rahmat mencoba menenangkan lalu meninggalkan kelas kami. Namun suara-suara itu masih terdengar lagi. Kali ini suara Shiva. “Eh, kayanya ada anak baru ya, Ni? sindir Shiva padaku. “Wah wah siapa tuh?” Reina melirik sinis kearah ku. “Ih, dasar sok alim!” celetuk Yumna.

“Iya ya, dulu kayanya cuma pakai kerudung paris dari gue,” Reina semakin sinis melihat ku.

“Haha.., udahlah biarin aja, emang dasar sok alim banget ih!” sahut Shiva lagi.

YaAllah.. inikah jalan menuju ketaatan? bukannya mendapat dukungan malah cacian, bukannya dipuji malah dicaci, bukannya menginspirasi malah disindir sana sini. Aku menahan diri untuk tidak menangis, meski akhirnya pecah juga. “Eh dia nangis tuh gara-gara lo semua” ujar Fattah yang duduk di kursi sebelah kursiku. “Biarin lah, yuk kerjain tugas aja” Reina berlagak cuek.

Aku berlari menuju kamar mandi, benar-benar tak tahan dengan cibiran mereka. Emosi sudah meliputi diriku, ingin ku basuh api emosi ini dengan segarnya air wudhu. Hingga aku sampai di kelas lagi, mereka tengah membicarakan liburan kemarin.

“Rei, kamu liburan ke mana?” tanya Shiva penasaran.

“Pantai dong.. pemandangannya bagus banget!” jawab Reina dengan bangga.

“Kita mah liburan, emangnya kaya Bu Hajah nggak kemana-mana, pasti bingung mau nulis cerita liburan apa, secara gitu kan engga punya cerita haha..” sela  Yumna mengejek ku.

“Cukup!!” Aku berontak dalam hati. Kalian tidak tahu apa yang aku lakukan saat liburan kemarin. Aku mendapatkan banyak pelajaran dalam perbaikan diriku. Aku tak lagi liburan untuk kebutuhan dunia, bahkan lebih dari itu. Ya. Untuk kebutuhan dunia akhiratku, dan jujur dalam hati ini sangat ingin mengajak mereka untuk berjuang bersama dijalan yang Allah ridhoi.

Batinku terkoyak. Hatiku berontak. Aku hanya bisa mengira-ngira kenapa sikap ketiga sahabatku bisa berubah drastis seperti itu? Bisa jadi karena mereka menilai aku terlalu fanatik dalam memperdalam ilmu Agama, khususnya tentang hijab. Atau mungkin juga karena mereka kurang menerima beberapa sikap dan teguran baikku atas mereka? Memang sebelum-sebelumnya aku sering sekali mencoba menyampaikan tentang beberapa cara kami yang dulu berpakaian ataupun berhijab belum sesuai dengan tuntunan syariat.

Sambil merenungkan sikap sahabatku ini aku tak berhenti berdoa. “Ya Allah.. mohon kokohkan imanku di atas syariat-Mu.. ku mohon berikan hidayah kepada sahabatku… ketuklah hati mereka agar mampu menjemput hidayah-Mu. Aku hanya ingin persahabatan kami bukan hanya didunia namun juga sampai disyurga.. berjuang bersama menuju jalan yang engkau ridhoi ya Rabb..”

Tiba di rumah, sambil menguatkan hatiku untuk tetap teguh. Aku kembali mengingat lagi perintah Allah untuk berhijab syar’i. Tentu akan penuh dengan ujian, karena Syurga tidak dengan mudahnya didapat. Perlu usaha, perjuangan keras dan bahkan harus Istiqamah. Aku benar-benar merasakan perlindungan dan kemudahan-Nya semakin dekat.Keesokan harinya, dengan niat karena Allah kutemui sahabat-sahabatku. Lidahku sebenarnya tak sanggup berkata-kata. Namun harus ku jelaskan semuanya.

“Assalamu’alaikum.. semuanya” hangat sapaku membuka pertemuan kami. Shiva dan Yumna menjawab salamku pelan, tetapi aku tidak mendengar salamku berbalas dari mulut Reina. “Mungkin perubahan penampilan ku tampak salah menurut kalian.. tapi inilah sesungguhnya perintah Allah.. aku benar-benar ingin berubah karena Allah.. mungkin dimata kalian aku ini kelihatannya sok alim atau kampungan dan sebagainya..” mereka diam bergeming, aku terus melanjutkan kalimat ku tadi.

“Kalian kira apa aku tidak sedih dihina? Apa aku tidak sedih dijauhi? Ternyata seperih itu aku merasakannya.. jujur aku tidak marah dan tidak membenci kalian, bahkan aku sangat ingin kalian mau berjuang bersamaku dijalan kebaikan ini..” Menyampaikan hal itu aku tak kuat menahan air mataku. Ketiga sahabatku pun seketika membisu dan menunduk. “Bukan berarti sudah berhijab syar’i seperti ini aku jadi sempurna, tidak sama sekali.. aku masih terus belajar dan ini baru awal. Aku sangat butuh dukungan kalian..” kali ini Shiva mulai mengangguk dan Yumna mulai berani menatap mataku, Reina pun tetap dalam diamnya.

Kuhela nafasku dalam-dalam, dan sudah siap dengan kata-kataku selanjutnya. “Aku sayang sama kalian karena Allah semata.. Maaf apabila perubahan dalam diriku ini, tak sengaja menyakiti kalian. Tapi aku hanya ingin kalian juga bisa segera menjemput hidayah-Nya.. perlahan mau menjadi muslimah yang benar-benar mengikuti aturan sesuai dengan yang sudah Allah syariatkan. Kita adalah perempuan.. dan Allah sudah katakan bahwa sebenarnya kita ini sangat berharga.. maka Allah ingin kita tetap terjaga dengan aturan terbaik-Nya. Terakhir.. aku ingin kita sama-sama mengejar ridha-Nya..”

Shiva menyembunyikan wajahnya, kulihat matanya berkaca-kaca dan dia tertunduk malu. Yumna pun sontak menitikkan air mata harunya. Tanpa perlu waktu yang lama, mereka memelukku erat dan mengucapkan kata maaf terdalamnya. Tangis kami serentak pecah. Beberapa menit kami hanyut dalam perasaan haru dan bahagia. Aku sudah menyiapkan akan memberikan hadiah hijab syar’i untuk mereka bertiga. Insyaa Allah bermanfaat sebagai langkah awal mereka untuk memulai menutup aurat sesuai syari’at.

“Gimana? sudah siap kan menjaga diri kita yang berharga ini?..”

“Bismillah.. Insyaa Allah” jawab mereka yakin sembari tersenyum dihadapanku.

Aku mengucap syukur dalam hati, begitu bahagia yang terasa setelah kami kembali berpelukan. Sejatinya masih banyak lagi tugas kita, karena kewajiban seorang muslimah memang banyak sekali. Termasuk menjalani kebenaran dan mengingatkan kepada saudaranya yang lain. Aku pun kembali menyemangati. Mereka mengangguk tegas. Kini, persahabatan kami jauh lebih indah dan semakin dekat menuju ta’at. Satu langkah menjadi lebih baik. Terkadang salah paham itu memang diperlukan agar kita mampu untuk belajar memahami satu sama lain meski dalam keterbatasan. Semoga Allah menjaga persahabatan kami dengan indahnya ukhuwah Islamiyah. Aamiin yaRabbal’alamin.

Sebagai seorang muslimah, kita harus selalu ingat untuk tetap menjaga diri dengan sebaik-baiknya, karena kita begitu berharga.

Semangat ya, menjemput cinta-Nya!

Biodata Penulis
Nama   : Insanirha Fahiyah Mutona
Instansi: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
No HP : 085717248132 (Telp)
Email   : insanirhafahiyah@gmail.com

Comments

comments