Kenapa Selalu Sendiri?

Katanya, kamu meyakini perintah Allah untuk menyatukan diri. Lalu, kenapa masih selalu sendiri-sendiri?

Allah telah mewariskan kepada kita nikmat yang tak terhingga. Nah, diantara sekian banyaknya nikmat yang tak pernah mampu kita hitung banyaknya, ada satu nikmat yang begitu istimewa. Memang sih, sebagai manusia yang banyak alpanya, kita seringkali lupa akan hadirnya. Namun, lupanya kita tidak akan mengurangi sedikitpun nikmatnya. Biasanya, dalam pembukaan khutbah dan berbagai acara keislaman, nikmat satu ini tak pernah luput disebutkan. Sudahkah kalian bisa menebak? Yap. Nikmat Iman.Yang menjadikan kita sebagai golongan orang yang berada dalam lindungan Sang Maha Pelindung, Allah SWT.

Lalu, apakah nikmat Iman hanya sebatas menjadi pelindung bagi kita sendiri? Apakah iman dalam diri hanya berfungsi menyelamatkan kita dari keterpurukan hati sendiri? Ah, rasanya terlalu murah bila hanya mengaitkan iman dengan kepentingan pribadi. Padahal, yang sering luput kita sadari, iman juga telah membawa serta sebuah ikatan persaudaraan antara kita dan muslim lainnya.

Memang, kita kadang egois saja, melantunkan doa-doa di sepanjang siang dan malam hanya agar pencapaian diri terpenuhi. Padahal, doaterlalu istimewa bila hanya digunakan untuk sekedar memenuhi keinginan sendiri. Doa menjadi sebuah senjata yang mampu menyatukan kita dengan orang beriman lainnya. Doa mampu menembus ruang, melintasi waktu, melewati batas akal manusia. Doalah yang dihadiahkan oleh para nabi kita, yang walaupun tak pernah berjumpa dengan kita, tapi senantiasa melantunkan doa-doa terbaik untuk umatnya hingga akhir masa.

Kadang juga, kita abai dengan dunia sekitar, hingga tiap upaya yang kita jalani hanya untuk kepentingan sendiri. Padahal, di luar sana, ratusan tangan memohon pertolongan, ribuan mulut meminta makanan, dan jutaan tangis mengais kebahagiaan. Bagaimana mungkin, kita bisa tenang mengejar mimpi pribadi dan berupaya memperkaya diri, kala saudara Muslim kita di luar sana tengah dihabisi?

Tak perlu jauh-jauh mencari bukti, mari tengok keadaan yang terdekat dengan kita selama ini. Baru-baru ini, kita digemparkan oleh wabah mengerikan. Namun, yang jauh lebih mengerikan adalah efek yang diantarkan oleh si wabah yang katanya mematikan. Kita menyaksikan sendiri betapa jiwa ‘sendiri-sendiri’ milik manusia dengan brutal menampakkan diri. Berbagai keperluan sehari-hari dimonopoli. Bahkan, tak sedikit pula yang egois menimbun APD (alat perlindungan diri) demi kesehatan sendiri. Hingga kini, harga barang melonjak tinggi, sedang keperluan tidak mampu terpenuhi. Itukah hal yang ditujukan dari berjalan demi kepentingan sendiri?

Kawan, mari sejenak berefleksi. Cermati ayat-ayat penuh cinta dari Yang Maha Pengasih, yang telah menyatukan kita dalam persaudaraan Islam.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali-Imran [3]: 103)

Betapa jelasnya Allah Swt. menerangkan keutamaan untuk bersama di jalan Allah, bukannya malah memisahkan diri dan berupaya menggapai keridhaan Allah seorang diri. Jadi, kalau benar kita beriman, maka selanjutnya berjamaah menjadi sebuah kewajiban. Kasarnya sih, begini: Katanya, kamu meyakini perintah Allah untuk menyatukan diri. Lalu, kenapa masih selalu sendiri-sendiri?

Selevel Nabi Musa dengan mukjizat yang luar biasa saja, masih membutuhkan Nabi Harun sebagai pendampingnya. Bahkan, Nabi Muhammad Saw., sebagai manusia paling sempurna tanpa ada cacatnya, pun senantiasa berjuang ditemani sahabat-sahabatnya. Kita, manusia biasa tanpa mukjizat apa-apa, bahkan banyak sekali cacatnya, kenapa malah egois hanya ingin berjalan sendiri? Mengapa masih saja berfokus pada pencapaian demi eksistensi diri? Mengapa juga, hanya bergerak untuk kepentingan sendiri?

Mari, kawan. Kembali bersatu dalam persaudaraan yang telah Allah anugerahkan. Biarkan segala doa dan upaya kita terajut bersama menjadi jalan menuju surga, memuliakan saudara-saudara kita yang tertindas sekian lamanya. Berjanjilah, walau terkadang lelah, jangan pernah berhenti dan memutuskan ‘tuk berjalan sendiri, karena saudaramu menanti dalam persaudaraan hakiki. Mari, bergandengan tangan dan merasakan pahit manis perjuangan membela Islam. Karena sejatinya, bersama adalah kewajiban.

#reminder #ayomenulis #kitaadalahsaudara

Comments

comments