Pandemi Membawa Berkah Alasan dari Menulis

Oleh: Nurhasanah

Dulu menjadi penulis adalah hal yang tidak pernah ku pikirkan sama sekali. Membayangkan saja tak pernah, apalagi bercita-cita, bukan ? Menulis bagiku adalah hal yang sulit dan aku tidak menyukainya.

Mungkin  kalian akan bertanya ? 

Menapa aku tidak suka menulis?

Maka jawabnya seperti ini. Semenjak sekolah SD sampai SMA aku menyukai pelajaran menghitung, entah itu Matematika, Fisika, Kimia dan lain sebagainya. Dan pelajaran yang tidak ku sukai  adalah Bahasa Indonesia, Sastra dan sejenisnya.  Paling benci kalau ada tugas mengarang entah itu cerita apalagi kalau  membuat puisi, itu dapat  membuat kepalaku pusing dan sakit.

Berbeda dengan matematika, aku  menyukainya. Menurutku  menghitung itu  seru, berkutat dengan rumus dan berhasil memecahkan soal matematika yang rumit itu bahagia banget, apalagi kalau menghitung duit hehe. Mungkin alasannya terlihat klise ya. Sebenarnya inti dari semua alasan tak menyukai menulis itu adalah rasa malas. Malas berpikir, malas bergerak dan masih banyak lagi malas yang lainnya.

Sebenarnya waktu sekolah SD aku punya hoby membaca buku. Itu karena aku berasal dari sebuah pedalaman yang tak bernama. Orang menyebutnya dengan gunung,  tempat tinggal yang  dikelilingi oleh hutan. Televisi Cuma ada di waktu malam yang dinyalakan menggunakan generator. Karena alasan itu, aku suka membaca buku untuk membunuh waktu. Karena dulu suka membaca buku, maka sering timbul ide-ide untuk di tuangkan dalam bentuk tulisan. Tetapi  karena malas  itu tak pernah terjadi. Ya walaupun keinginan untuk menulis itu selalu ada, tapi itu hanya keinginan yang menjadi angan-angan.

Setelah Desa di pedalaman tempat ku tinggal itu di gusur. Aku pun pindah ke kota, dengan suasana baru yang jauh berbeda dengan di pedalaman. Maka membaca buku itu tak ada lagi dalam hoby ku. Hoby ku berganti dengan nonton televisi. Dari situ membaca apalagi menulis seakan-akan mulai terlupakan.

Kemudian saat kuliah, mulailah kembali suka membaca. Hmm mungkin karena dipaksa ya, sebagai mahasiwa diharuskan membaca untuk mengerjakan tugas dari Dosen. Kemudian minat membacaku semakin bertambah ketika dengan bertemu teman-teman yang memiliki hoby membaca dan menulis. Berteman dengan mereka membawa dampak yang besar. Mulai mencoba menulis juga, tetapi masih tidak terlalu suka.

Nah saat pandemilah aku mulai belajar menulis dengan lebih serius. Salah satu hikmah pandemi yang sangat terasa adalah banyaknya waktu luang untuk belajar dengan online. Di rumah saja, tanpa melakukan kegiatan apapun. Terasa membosankan. Karena merasa waktu tidak produktif  maka mulailah ikut seminar-seminar online tentang kepenulisan, ikut kelas menulis, dan lain sebagainya. Dari sanalah mulai mengubah pandanganku tentang menulis . maka timbullah keinginan yang sangat kuat untuk menjadi penulis. Yang dulu  tak pernah berpikir menjadi penulis, sekarang menjadi ingin berubah. Ya walaupun jalan panjang masih harus di tempuh karena sadar ilmu menulis masih sedikit. huuu

Kenapa kita mesti menulis ? karena banyak manfaatnya, baik bagi diri kita ataupun orang lain. Menulis itu untuk peradaban, untuk abadi dalam dunia berupa karya. Bahkan dapat menjadi amal jariyah kalau tulisan kita bermanfaat.                         

Alasan kenapa kita harus menulis.  Imam Ali bin abi Thalib pernah berkata “ Ikatlah ilmu dengan menulis” agar ilmu itu tidak hilang. Kemudian Imam Al-Ghazali pernah berkata “Kalau kamu bukan anak Raja dan engkau bukan anak ulama besar maka jadilah Penulis”. Terakhir alasan mengapa kita harus jadi penulis yaitu Seorang novelis bernama Pramoedya Ananta Toer pernah berkata “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis. Ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah”.

Gajah mati akan meninggalkan gading, maka jadilah manusia yang meninggalkan karya.

Comments

comments