Semulus Perasangka

Oleh: Nurul Inayah Tihurua

Di masa pandemi ini, kita dihadapkan dengan banyak hal, ada banyak ujian yang juga dihadapi oleh banyak orang. Tapi kita juga tak boleh lupa, bahwa di setiap ujian sudah Allah tempatkan Hikmah. Dan di masa sulit seperti ini, kita punya banyak waktu, punya banyak pengalaman baru, punya banyak kesibukan baru, juga punya banyak pelajaran berharga. Dan seberhargaberharganya sebuah pengalaman atau pelajaran, itu tidak akan pernah ada artinya jika kita hanya memendamnya sendiri, hanya untuk kita, tanpa berbagi.

Dan bagiku krisis kesehatan yang sedang kita alami saat ini memberiku banyak waktu untuk mengintrospeksi diri. Hari-hari yang lebih banyak didominasi oleh kebimbangan ingin berbuat apa, menuntunku tenggelam dalam renungan-renungan panjang tentang apa yang sudah aku dedikasikan untuk sekitarku. Berhari-hari, bermalam-malam, lalu yang ku jumpai hanyalah kekosongan. Cahaya-cahaya itu membawaku pada jawaban bahwa belum ada yang aku berikan.

Kebermanfaatan yang selama ini aku idamkan ternyata masih berupa angan.

Dan hari-hari selanjutnya, aku kembali berpikir bagaimana caranya kehadiranku bukan hanya sebatas sosok anak muda yang kasat akan manfaat pada sekitar. Keputusanku kemudian jatuh pada ide-ide liar yang sudah lama tak kutuangkan dalam buku, aku memutuskan untuk kembali menulis aspirasi lewat sosial media milikku yang sudah lama tak kukunjungi. Aku selalu beranggapan bahwa, tulisan-tulisan kita tanpa kita sadari bisa jadi merubah mindset atau kepribadian orang-orang yang membacanya, maka dari itu, Aku ingin menjadi penulis yang tulisan-tulisannya adalah kebaikan, motivasi, Muhasabah dan banyak hal lain yang sekiranya mendatangkan kemanfaatan.

Pada masa seperti ini juga kita disadarkan bahwa ada banyak orang yang tak seberuntung kita, bukan hanya kesehatan kita yang sedang diuji, tapi juga empati dan mental. Mungkin ini cara Tuhan menguji kita seberapa peduli kita pada sekitar, seberapa sadar kita akan kebobrokan yang terjadi dan kita yang hanya diam, seberapa berharga hal-hal yang selama ini kita abaikan, seberapa sering kita lebih mementingkan duniawi daripada bermesra dalam sujud, dan betapa sering kita beribadah tapi orientasinya adalah untuk mengejar dunia.

Beberapa bulan terakhir ini, aku juga seringkali tertampar dengan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarku. Dan positifnya Aku menjadi lebih bersyukur, Aku menjadi lebih sadar bahwa ujian yang selama ini aku hadapi tidak ada apa-apanya dengan yang orang lain hadapi. Bahkan, saat aku merasa tak punya siapa-siapa, tak memiliki apa-apa, Allah lagi-lagi menunjukkan kuasanya, rasa-rasanya semua orang Allah gerakkan untuk menolongku disaat susah, semua orang Allah tuntun kearahku saat aku merasa sendiri. Dan pada akhirnya, semua kembali pada diri kita, pada prasangka kita, pada mindset kita, dan pada lingkungan penopang hidup kita. Jika prasangka kita adalah selalu tentang kebaikan maka yang akan terjadi pun seperti itu, selalu kebaikan. Lalu saat Allah kembali mengirimkan berbagai ujianNya, dan kita berpikir bahwa kita bisa melewati semua ini, maka kita bisa. Sungguh, tak ada yang sulit bagiNya. Mungkin ini adalah cara Allah memberi kita waktu untuk menikmati apa-apa yang selama ini kita abaikan, melihat apa-apa yang selama ini tidak ingin kita pandang, dan mendengar jeritanjeritan yang selama ini padanya kita tuli. Maka Mari, tumbuhkan lagi empati, pupuk lagi kecintaan kita pada keluarga, eratkan lagi genggaman, dan perbaiki prasangka. Lalu jika saatnya sudah tiba, orang-orang yang terpilih akan berjalan keluar dari rumahnya sebagai pribadi yang lebih baik. Dan semoga saja kita adalah salah satu di antara orang-orang itu.

Comments

comments