Dinul Islam Sebagai Navigator Kehidupan

Oleh : Adams Pratama Yanuar


Kata Ad-din tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita bahkan sering kali ditemukan dalam Al-Quran maupun di buku-buku keislaman. Pun beberapa tokoh menjelaskan secara rinci terkait kata tersebut. Menurut Prof. Syed Naquib Al Attas, kata dīn berasal dari akar kata bahasa Arab Da-Ya-Na yang darinya muncul kata-kata lain dengan makna yang berbeda, walaupun tampak bertentangan antara satu sama lain. Namun, sebenarnya kata-kata tersebut memiliki hubungan yang erat secara konseptual.

Agara memahami makna kata dīn,  keseluruhan makna dari kata-kata yang berbeda itu perlu dipahami sebagai satu kesatuan makna yang tidak terpisahkan, yang darinya akan muncul gambaran Islam sebagai agama yang dibawa dalam lafaz dīn.

Abu Hanifa juga berpendapat bahwa kata din berarti keyakinan dan perbuatan. Dalam artian yang mana dengan seseorang memeluk suatu keyakinan, ia memilki konsekuensi atas segala perbuatannya dimana harus sesuai dengan keyakinan yang dianut.

Al-Bāqillānī, salah seorang murid dari ‘Asy’ari, membedakan beberapa kemungkinan pengertian, yaitu pertama, pembalasan berhubungan dengan pemberian ganjaran; kedua, perhitungan dalam makna keputusan hukum; ketiga, keimanan, kepatuhan; dan keempat, dīnal-haq, dimana Islam membiarkan dirinya sendiri dipimpin oleh Tuhan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Dari dua tokoh di atas kita dapat menangkap bahwa terdapat beberapa makna dari kata Din karena kata tersebut merupakan kata yang sangat umum dalam Bahasa Arab. Namun, terdapat makna yang sekiranya dapat kita hubungkan dengan makna Islam yaitu menyerahkan diri sepenuhnya.. Bermakna keyakinan, perbuatan dan ganjaran.           

Din dan Islam adalah dua kata yang saling berhubungan satu sama lain. Dinul Islam atau singkatnya lebih dikenal dengan agama Islam, tidak sesederhana itu. Dinul Islam juga dapat kita pahami sebagai konsep penunjuk, pedoman, dan arah dari kehidupan umat Islam. Karena, konsep dinul Islam mempunyai makna yang luas dan tidak bias dan hanya dapat diartikan sebagai Agama Islam.

Sebagai sebuah konsep besar yakni petunjuk, pedoman, dan arah kehidupan umat Islam, Dinul Islam mempunyai beberapa makna yang dapat dihubungkan dengan ketiga konsep besar tersebut. Sebagaimana yang disampaikan Syed Naquib Al Attas makna tersebut antara lain, Dayn, Tamaddun, dan Dayyan.

Pertama Dayn, Syed Naquib menjelaskan beberapa makna dari kata Dayn yang berarti “berhutang” yakni suatu hal yang harus dipenuhi dan menghadirkan kewajiban yaitu membayarnya. Hutang yang dimaksud ialah konsekuensi atau kewajiban yang harus dibayarkan seseorang atas hal yang telah diberikannya.

Dalam konteks hubungan antara manusia dengan Allah, setiap insan memiliki hutang yang amat besar kepada Allah. Al Attas menyampaikan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kewujudannya atau penciptaannya.  Lebih dari itu, masih banyak anugerah lain yang Allah berikan kepada manusia sehingga semakin banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia maka semakin besar juga keberhutangan kita terhadap Allah.

Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam Q.S Al Mu’minun (23: 12 – 14) “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Ayat ini menjelaskan tentang betapa panjangnya proses Allah menciptakan manusia dan tentu dengan maksud serta tujuan yang bukan sia-sia.

Dari sini kita harus paham bahwa sebagai makhluk-Nya kita sangat berhutang kepada Allah. Terbukti dengan tidak terhitungnya nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Sehingga, penting bagi kita untuk senantiasa memikirkan banyaknya nikmat yang Allah berikan , maka akan melahirkan rasa tanggung jawab untuk memaksimalkan penggunaan nikmat yang Allah beri.

Kedua ialah Dayyan, dengan makna penyerahan diri. Ini relevan dengan makna dari Islam itu sendiri, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya. Tentu maksud penyerahan diri di sini masih teramat umum, maka yang dimaksud penyerahan diri dalam dinul Islam ialah penyerahan diri secara terus-menerus dan sepenuhnya.

Namun, tentunya penyerahan diri itu bukan bermakna minim usaha untuk mencapai hasil yang terbaik. Akan tetapi, tetap berusaha secara maksimal dengan usaha terbaik kemudian menyerahkan hasil dari usaha yang kita lakukan sepenuhnya kepada Allah.

Sampai sini makna Islam sangatlah rasional, yaitu memaksimalkan usaha dan menyerahkan hasil kepada Allah Swt. Menurut al-Attas penyerahan diri yang benar adalah dengan dilakukan secara sadar dan atas kemauan sendiri.  Penyerahan diri juga berarti ketaatan terhadap hukum-hukum-Nya.

Sebagaimana Allah jelaskan bentuk penyerahan diri dalam Q.S Al Imran (3: 83) “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi,  baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan”.

Ketiga tamaddun, berasal dari kata mad dan a yang berarti peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial. Dinul Islam sebagai agama yang diridai oleh Allah Swt juga harus menjadi perbaikan dalam budaya-budaya sosial yang menyimpang dari nilai-nilai agama.

Rasul dan Islam diturunkan untuk memperbaiki akhlak dari umat manusia dari perbaikan akhlak tersebut diharapkan mampu memperbaiki kehidupan social dari seluruh umat manusia terutama dalam hal-hal fundamental seperti ekonomi, pangan, pemikiran, dsb.

Comments

comments

One thought on “Dinul Islam Sebagai Navigator Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.