HUMANITY TALKSHOW 2021

Foto bersama Nana Firman dengan peserta Humanity Talkshow 2021

Bidang Pos Solidaritas Umat (PSU) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid 25 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Humanity Talk Show bertajuk “Refefleksi Bencana: Membaca Bumi, Membaca Diri” pada Sabtu, (27/3) melalui ZOOM Meeting. Talk Show yang dipandu oleh Bayu Aji Setiawaan ini, dibuka dengan menampilkan sebuah video yang menggambarkan kondisi alam Indonesia pasca bencana, mulai dari kebakaran hutan sampai banjir akibat dari ulah tangan manusia.

Berkaca dari banyaknya bencana tersebut, adanya Humanity Talk Show ini diharapkan dapat membuat kita sebagai manusia dapat membaca bumi dan memanusiakan manusia, terutama mereka yang terkena bencana.

“Harapannya, semoga kita bisa menteladani sifat rasul yang tinggi rasa kemanusiannya untuk siapapun itu. Sebagai pemuda, kita (harus) menebarkan maanfaat kita seluas-luasnya, agar Islam menjadi salah satu solusi permasalahan di Dunia. Jadi, mari kita membaca bumi kita dan merefleksikannya dalam keseharian kita,” jelas Ketua PSU, Adam Fikri saat membuka acara tersebut.

Mengutip Qur’an Surat Ar Rum ayat 41, Co-Founder of The Global Muslim California USA, Nana Firman mengatakan bahwa ayat tersebut sangatlah dahsyat jika dijadikan sebagai kritik untuk manusia. Terkhusus untuk diri sendiri yang menjadi sebab terjadinya kerusakan di darat dan di laut. Ia menjelaskan bahwa global warming juga terjadi karna aktivitas manusia yang menyebabkan meningkatnya efek rumah kaca.

“QS Ar Rum ayat 41 ini sangat dasyat jika menjadi kritikal terhadap diri kita, bahwa tangan-tangan kita ini yang menjadi (penyebab) kerusakan di darat dan dilaut.  Salah satu contohnya adalah global warming yang didefinisikan (para ahli) naiknya suhu rata-rata bumi pada abad ke 20 akibat meningkatnya efek rumah kaca, dan efek rumah kaca terjadi akibat dari aktivitas manusia,” ujar Nana

Nana juga menjelaskan, bahwa secara geografis Indonesia terletak pada rangkaian cicin api, hal inilah yang membuat Indonesia rawan bencana. Selain itu, salah satu faktor terjadinya bencana adalah meningkatnya suhu bumi dalam lima tahun terakhir, akibatnya cuaca ekstrim membuat kebakaran hutan banyak terjadi di Dunia. Tak hanya itu, peningkatan suhu bumi juga membuat uap air di udara bertambah banyak, sehingga curah hujan menjadi semakin tinggi.

“Akhir-akhir 2020, Indonesia sudah banyak terjadi bencana dan dalam lima tahun terakhir kenaikan suhu bumi juga terus mengalami peningkatan. Bahkan kenaikan 1 derajat aja itu ngaruh kepada ketahanan air dan cuaca yang akhirya terjadi bencana. Dan 93 % ekstrak panas yang ada masuk kelaut Indonesia, sehingga laut kita semakin panas (dan) semakin tinggi di 20 tahun terakhir ini. Ketika suhu bumi meningkat, uap air akan bertambah bnyak di udara, sehingga permukaan angkasa lebih lembab, dan ketika uap air bertambah banyak, maka curah hujan akan semakin besar dan semakin meningkat ketika (terutama) di daerah penggunungan. Bagaimana bencana ini bisa terjadi? kita sebagai manusia juga ikut andil dalam bencana itu,” paparnya

Karna hal itulah,Nana mengajak umat beragama khusunya anak muda untuk mengamalkan nilai-nilai yang dianutnya. Ia juga mengatakan bahwa rasa peduli terhadap lingkungan adalah bagian terpenting dari ibadah dan kesalehan seorang muslim.

“Kita sedang mendorong keteman-teman muda (untuk perduli terhadap lingungan), kita ini (jangan sampai) sibuk ibadahnya hanya ritual, tapi sebenarnya ada ibadah yang harus kita tarik lebih luas kepada alam. Gak bisa jadi muslim kalau gak perduli lingkungan, harus ditumbuhkan kalau saya muslim berarti saya harus perduli (dengan) lingkungan. Pelajari hidup rasul dan ikuti, setelah kita sholat kita harus mengekspresikannya dalam kesehari-harian,” jelasnya.

Terakhir ia berharap, agar menjadikan bulan Ramadhan ini sebgai refleksi diri untuk memulai menyayangi apa yang kita butuhkan, salah satunya adalah alam ini.ia juga mengajak kepada para peserta yang hadir untuk melakukan satu hal yang ingin diubah agar lebih ramah lingkungan, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga dan lingkungan.

“Saya berharap temen-temen bisa membuat Green Ramadhan, ngaji lingkunga, buat ifthar yang ramah lingkungan atau gerakan menanam pohon.Kita pakai  (bulan) Ramadhan ini sebagai (pengingat)untuk kembali membaca ayat bukan hanya kauliyah saja tapi juga ada kauniyahnya di alam,” tutupnya.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.