LAUNCHING KEISYA 25

Foto bersama dengan para peserta Seminar Kemuslimahan Launching Keisya 25

Pada Sabtu (24/4) telah diselenggarakan Seminar Kemuslimahan pada Launching Keisya 25 dengan tema “Let’s be a Critical Muslimah in the Midst of Modernity” melalui ZOOM Cloud Meetings. Seminar ini merupakan akhir dari serangkaian kegiatan Launching Keisya 25. Launching Keisya 25 dimulai dengan Launching Keisya Competition dengan lomba cerpen dan lomba komik strip yang diselenggarakan pada 25 Maret – 20 April 2021.

Launcing Keisya merupakan kegiatan di bawah komando Biro Keputrian Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid 25 sebagai kegiatan untuk memperingati lahirnya Keisya serta mengenalkan Keisya dalam cakupan lebih luas lagi.

Biro keputrian LDK Syahid 25 mengundang Birrul Qodriyyah, S.Kep. Ns., MSc selaku pembicara pada seminar kemuslimahan ini. Dibuka pada pukul 12.30 WIB dengan dibawakan oleh Dede Rina Utariah sebagai MC serta dimoderatori oleh Aliyah Fitriani dan dihadiri oleh 225 peserta.

Birrul membuka seminar dengan menyajikan hubungan antara Modernity dan Critical Thingking. Masyarakat sekarang dikenal sebagai Global Village dimana dunia seolah-olah tanpa sekat, dimana seluruh dunia dapat berkomunikasi satu dengan yang lain.

Menjelaskan ciri-ciri dari modernitas yang diantaranya semakin cepatnya transportasi dan penyebaran informasi melalui teknologi dan internet. Cepatnya penyebaran informasi ini mengakibatkan masyarakat kebanjiran informasi, mengalami banyaknya distraksi serta unlimited work/ time.

Maka, dilihat dari akibat-akibat yang ada, masyarakat perlu memiliki kemampuan critical thingking. Berpikir kritis yang dimaksudkan ialah terus bertanya-tanya tentang sebuah kebenaran informasi. Hal ini penting, terlebih untuk seorang muslim karena berpikir kritis merupakan salah satu ciri dari seorang hamba Allah.

Terlihat pada kisah Nabi Ibrahim a.s . yang dijuluki sebagai pure thinker, who never stop asking. Ia selalu berpikir, selalu bertanya, selalu mencari, dan tidak pernah langsung menghakimi sesuatu. Terdapat pula penjelasan berpikir kritis sebagai ciri seorang muslim, pada Q.S Yusuf: 108, dengan penjelasan bahwa muslim tidak pernah menerima sesuatu dengan mata tertutup. Tidak akan pernah menerima sebuah jawaban sampai bisa membuktikan jawaban tersebut.

Islam sangat mengutamakan mereka yang memulai. Menurut Birrul, seseorang tidak bisa merubah orang lain, tetapi seseorang dapat menginspirasi orang lain untuk berubah.

“Kita tidak bisa merubah orang lain, tapi bisa menginspirasi orang lain unntuk berubah”, ujar Birrul.

Birrul juga memberikan trik untuk menjadi muslimah yang kritis, yaitu dengan fokus dan tidak menjadi multitasking serta selalu menulis agenda-agenda yang akan dilakukan setiap harinya. Lalu berilmu, karena untuk mengkritisi sesuatu diperlukannya ilmu. Menjadi Learner minded – tawadhu’,  yang tidak pernah sombong, rendah hati dan belajar sepanjang hayat. Kemudian memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, banyak membaca serta terus belajar.

Birrul menutup seminar kali ini dengan mengungkapkan, bagaimana membangun kemampuan berpikir kritis menjadi penting sebagai seorang muslimah, karena muslimah lah yang akan menjadi seorang ibu, madrasah pertama untuk anak-anak kelak.

Seminar dilanjutkan dengan simbolisasi penyerahan cenderamata kepada pembicara. Kemudian pengumuman lomba-lomba serta ditutup dengan doa.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.