DAMAI KAMPUSKU

Dokumentasi penyampaian pemateri oleh Ustad Hepi Andi Batomi

Hallo Sobat Madani!

Alhamdulillah pada Sabtu, (28/08/2021) Remaja Masjid Student Center (RMSC) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali melaksanakan Kajian Damai Kampusku yang ke 3 secara virtual. Mengangkat tema “Momentum Kemerdekaan Indonesia Sebagai Wujud Persatuan Umat” tersebut dibuka dengan lantunan ayat suci Al-qur’an, oleh saudara Fajri dan dimoderatori oleh Koor Bidang Eksternal RSCM LDK Syahid, Muhammad Labib.

Ketua LDK Syahid, Adam Pratama mengatakan bahwa agenda ini merupakan wujud dari rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia serta menjadi momen persatuan.

“Semoga (kajian ini) dapat mengikat kembali momen yang sudah mulai renggang, menjadi satu simpul yang bisa diikat kembali, sehingga (nantinya) kita bisa menjadi agen umat dimasa depan,” jelas Adam

Pada kajian kali ini, damai kampusku mengahdirkan Hepi Andi Batomi sebagai narasumbernya. Penulis 56 buku ini mengatakan walaupun momentum kemerdekaan telah berlalu, namun suasananya masih terasa apalagi memasuki bulan Muharam. Karna hijrahnya kaum muslimin ke Madinah merupakan bentuk dari kemerdekaan.

“Antara hijrah dan kemerdekaan itu ada kaitannya. Karna hijrah sendiri artinya memerdekakan, yang artinya mereka bebas untuk menyusun peraturan (Piagam Madinah) di Madinah,” ujar Ustad Hepi.

Hepi juga menghimbau, untuk tidak melupakan sejarah bagaimana negara ini merdeka atas perjuangan nenek moyang, yang mayoritas adalah seorang muslim. Ia juga mengatakan bahwa dalam pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSBB) dijelaskan bagaimana sejarah Belanda bisa menguasai Indonesia begitu lama. Hal itu karna rakyat Indonesia yang tidak bersatu dan mudah di adu domba.

“Demikian luar biasanya umat Islam dalam memperjuangan kemerdekaan. Sehingga Sukarno mengatakan bahwa ia bingung bagaimana menggerakkan arek-arek Suroboyo, yang bergerak hanya dengan kalimat takbir. Selain itu, pejuang kita ketika itu di adu domba oleh Belanda hingga terjadilah perang. Dan karna tidak bersatunya kita ketika itu, membuat penjajahan itu langgeng (berlangsung lama),” ujar Hepi.

Ia juga mengumpamakan pentingnya bersatu seperti tukang sapu yang mengumpulkan daun-daun satu persatu, lalu dia masukan kedalam karung.  Berkumpulnya kumpulan-kumpulan kecil tersebut kemudian membentuk sebuah kesatuan yang berbeda-beda tapi tetap menyatu.  

“Jadi dengan adanya perkumpulan tersebut, (hal itu) akan menjadi cikal bakal rakyat Indonesia. Kita tau Indonesia punya sejarah panjang yang terikat satu kesatuan, yang menjadi modal untuk kita lepas dari penjajahan,” tegasnya.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab dan menutupnya dengan mengatakan salah satu cara jika ingin menguasai suatu negara, maka pecah belahlah negara tersebut. Adapun salah satu cara yang bisa dikakukan untuk membangun negara ini adalah dengan membaca sejarah.

“Jika anda ingin menguasai suatu negara maka pecah belahlah negara tersebut, tapi jika anda ingin membangun negara maka bacalah sejarah. Membaca sejarah itu penting, kalau temen-temen tidak suka membaca sejarah maka buatlah seminar dan undang para sejarawan. Temen-temen juga harus aktif dalam organisasi, karna dengan aktif di organisasi jiwa-jiwa leadership kita akan terbangun dan melatih kita (bisa) berkomunikasi” tutup Hepi.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan